Cirebon

By Batik_Fractal On 04 Apr 2020

The name Batik Trusmi must immediately appear when talking about batik in Cirebon. The magnificent and beautiful Megamendung motif has become one of the most popular in Indonesia. In 2014, Batik Fractal became acquainted with the women who made batik in the Trusmi batik center village in Cirebon. Our goal is to make them familiar with technology in their batik-related activity.

 High productivity makes our participant join the introduction of jBatik software enthusiastic about creating contemporary motifs. Some people were finally able to make new motifs that were still thick with the nuances of Cirebon batik. In addition to transforming Mega Mendung’s motives, we also learned other motives in Cirebon such as Paksinaga Liman, Wadasan, Byur, and others. This motif is said to be a relic of Cirebon Sunan and Sunan Kalijaga.

Gathering with mothers in Trusmi also made us understand the relation of batik to their daily basis. These mothers, not only gathered as a batik-maker community, but also as a large family. Their bonding is very strong, even for example when there is a celebration or family event, batik production can be stopped. Even so, they remain professional in making batik. Later, we make them as producers to work on batik orders from our clients.

Nama Batik Trusmi pasti langsung muncul ketika membicarakan soal batik di Cirebon. Motif Megamedung yang gagah dan indah telah jadi salah satu yang paling populer di Indonesia. Tahun 2014 lalu, Batik Fractal berkenalan dengan ibu-ibu pembuat batik di kampung sentra batik Trusmi di Cirebon. Tujuannya adalah untuk membuat mereka familiar dengan penggunaan teknologi dalam aktivitas yang berkaitan dengan batik.

Produktivitas yang tinggi membuat ibu-ibu yang mengikuti pengenalan software jBatik antusias dengan penciptaan motif kontemporer. Beberapa orang akhirnya mampu membuat motif baru yang masih kental dengan nuansa batik Cirebon. Selain mentransformasikan motif Mega Mendung, kami juga mempelajari motif lain di Cirebon seperti Paksinaga Liman, Wadasan, Byur, dan lainnya. Motif ini konon peninggalan dari Kasunanan Cirebon dan Sunan Kalijaga.

Berkumpul dengan ibu-ibu di Trusmi juga membuat kami memami kaitan batik dengan kehidpan sehari-hari mereka. Ibu-ibu ini, tak hanya berkumpul sebagai komunitas pembuat batik, tapi juga sebagai keluarga besar. Relasi mereka sangat kuat, bahkan misalnya ketika ada hajatan atau acara keluarga, produksi batik bisa dihentikan. Meski begitu, mereka tetap profesional dalam membuat batik. Kelak, mereka kami jadikan produsen untuk menggarap pesanan batik dari klien kami.

  1. Trusmi Village Cirebon (2014)
Share this articles :

Impact