Tulungagung

By Batik_Fractal On 04 Apr 2020

Diskusi Batik Fractal dengan pembatik Tulungagung
Diskusi Batik Fractal dengan pembatik Tulungagung

The existence of batik in Tulungagung is said to have existed since the occupation of the Majapahit kingdom to this area centuries ago, but until now batik has not been made a superior product of this city. Aside from being a trade commodity, batik has not been interpreted as a city identity, especially by young people who seem to have been separated from batik. In fact, batik-producing villages are scattered in several points with diverse motifs as well. Due to this, the Tulungagung Trade Office contacted Batik Fractal in 2011 to hold a three-day workshop.

For artisans in Tulungagung who are used to making batik buket ceprik gringsing pattern, pacit ungker ceprik pattern, lereng buket pattern, and so on, we don’t just practice making contemporary pattern, but we also conduct discussions and guidance on batik branding and promotion, both for Indonesia and international market. In this way, batik is not only seen as a commodity but the public hopes to see batik as a cultural artifact that they are proud of as well.

Keberadaan batik di Tulungagung konon telah ada sejak okupasi kerajaan Majapahit ke daerah sini berabad lalu, namun sampai sekarang batik belum dijadikan produk unggulan kota ini. Selain sebagai komoditi dagang, batik belum dimaknai sebagai identitas kota, apalagi oleh anak-anak muda yang seolah telah terpisah dari batik. Padahal, desa penghasil batik tersebar di beberapa titik dengan motif yang beragam pula. Tersebab hal ini, Dinas Perdagangan Tulungagung menghubungi Batik Fractal pada 2011 lalu untuk mengadakan lokakarya selama tiga hari.

Untuk perajin di Tulungagung yang terbiasa membuat batik motif buket ceprik gringsing, motif ceprik pacit ungker, lereng buket, dan lainnya kami tak hanya berlatih membuat motif kontemporer, namun kami juga melakukan diskusi dan pembinaan soal branding dan promosi batik, baik di dalam dan luar negeri. Dengan begini, batik tak hanya dilihat sebagai komoditi tapi harapannya publik melihat batik sebagai artefak budaya yang mereka banggakan.

Share this articles :

Impact