DARI SKEMA WARNA, HINGGA RANCANG KOLEKSI UNTUK PASAR BATIK GENERASI MUDA

 

45 Artikel BOB-BatikFractal 4 Pelatihan Purwarupa
41-Artikel-BOB-BatikFractal-4-Pelatihan-Purwarupa-scaled

“Oalah, ternyata menata warna itu ada rumusnya. Selama ini cuma asal kombinasikan aja,” ujar Maryati antusias. Ia adalah salah satu peserta Pelatihan Desain Fesyen dan Purwarupa oleh Badan Otoritas Boroboduru (BOB) dari Desa Girilayu, Karanganyar. Saat itu hari pertama pelatihan dan Maryati baru saja ditantang untuk membuat kombinasi palet warna oleh tim ahli yang mengajar, ini adalah hal baru untuknya.

Kombinasi palet warna ini hanyalah satu dari banyak materi Pelatihan Desain Fesyen dan Purwarupa yang diadakan pada 8-14 Agustus 2022 lalu. Selama satu minggu, pelatihan diadakan di dua lokasi yaitu Batik Mawastri, Desa Pilang, Kec. Masaran, Kab. Sragen pada 8-11 Agustus, dan di Rumah Batik Girilayu di Desa Girilayu, Kec. Matesih, Kab. Karanganyar pada 12-14 Agustus. Acara ini merupakan rangkaian program peningkatan kapasitas usaha ekraf fesyen kawasan Pariwisata Borobodur DPN Solo-Sangiran oleh Badan Otoritas Borobudur (BOB).

Sebelumnya, Juli lalu, diadakan pelatihan Desain Motif Batik menggunakan software jBatik. Proses menggambar motif yang dulu jadi tahap paling menantang kini dibantu dengan perangkat digital. Sementara menunggu kain batik hasil pelatihan motif secara digital jadi, rangkaian berlanjut ke desain fesyen dan purwarupa ini.

Tim ahli yang didatangkan oleh BOB mendampingi sebanyak 24 peserta dari delapan kelompok batik dari Sragen-Karanganyar yaitu Mekar Jaya, Soka, Sekar Arum, Batara Kresna, Sekar Tandjung, Girilayu, Sumberbulu, dan New Coral Ecoprint. Dalam waktu yang relatif singkat, peserta diberi pemaparan soaal tahapan-tahapan mendesain produk jadi yang bisa diaplikasikan ke kain batik yang mereka produksi. Ada tiga jenis purwarupa utama yang diarahkan untuk peserta: pakaian (aparrel), dekorasi rumah (homedecor), dan suvenir (merchandise).

Selama ini, Sragen dan Karanganyar dikenal sebagai daerah penghasil kain batik yang banyak dipasarkan di Solo hingga Yogyakarta. Kebanyakan hasir akhir mereka berupa kain. Jikapun ada yang mengolah jadi produk turunan siap jadi, belum terlihat ada proses desain yang mumpuni untuk menyasar pasar yang diinginkan.

Belajar design thinking dengan pelajari karakter pembeli dulu sebelum rancang koleksi

Pada hari ketiga pelatihan di Sragen sempat terjadi diskusi seru. Gabriella Manurung, salah satu tim ahli mengajak peserta diskusi soal karakteristik generasi Z dan milenial, serta pengaruhnya ke rancangan desain fesyen dan purwarupa. “Tak kira, semua yang muda itu milenial,” jawab Partini, salah satu peserta dengan polosnya. Ia kemudian terkekeh. Di pelatihan ini, peserta memang diarahkan untuk membuat produk untuk pasar generasi Y (milenial) yang juga jadi sasaran utama pariwisata DPN Solo-Sangiran.

Partini, adalah gambaran pembatik rural di Sragen dan Karanganyar yang awam terhadap proses design thinking yang umumnya dipakai jenama-jenama di kawasan urban. Di pelatihan ini, tim ahli mengajak peserta untuk berlatih berpikir kreatif, sekaligus terstruktur. Peserta yang sebelumnya memproduksi batik dengan prinsip “semau kami” atau “menuruti pesanan”, diajak menggali inspirasi, memilih palet warna, menganalisis pasar, dan salah satu yang paling penting memanfaatkan literasi digital untuk mencari referensi tanpa batas.

Selama dua hari pemaparan teori awal, hasilnya mulai terlihat. Peserta mulai bisa berpikir soal koleksi, alih-alih 1-2 batik yang diproduksi secara acak. Menurut Nurul dari Batik Batara Kresna, berpikir dalam konsep “koleksi” membuat produksinya lebih efektif, dan secara narasi bisa lebih diolah ketika nanti sampai dijual. Peserta juga didorong memakai “keyword” untuk mencari referensi di internet, juga untuk menentukan arah rancangan koleksi mereka. Baik di Sragen maupun Karanganyar, tim ahli mendorong peserta memanfaatkan media sosial seperti instagram dan pinterest sebagai kanal mencari referensi. Materi ini barangkali terlihat sederhana, tapi ternyata membawa dampak besar bagi peserta yang sehari-harinya memang tinggal di kawasan rural dan jauh dari gaya hidup yang terliterasi secara digital.

Berbeda dengan pelatihan pertama yang didominasi penggambar motif batik, kali ini peserta beragam dari mulai pemilik kelompok batik, pembatik, hingga penjahit. Namun ternyata semua merasakan bahwa materi yang dipaparkan selama pelatihan bisa diaplikasikan di keseharian mereka.

 

“Setelah pelatihan motif batik digital, tim ahli dari Badan Otorita Borobudur melanjutkan dengan pelatihan desain fesyen dan purwarupa di Sragen & Karanganyar”

43 Artikel BOB-BatikFractal 4 Pelatihan Purwarupa
47 Artikel BOB-BatikFractal 4 Pelatihan Purwarupa

 

Ciptakan beragam purwarupa baru dalam waktu singkat

Tak hanya memaparkan teori, praktek jadi bagian dominan di pelatihan desain fesyen dan purwarupa ini. Pada dua hari terakhir di Sragen dan Karanganyar, beberapa mesin jahit di datangkan ke lokasi. Setelah diberi materi soal trend fashion, koleksi, palet warna, dan lainnya, tim ahli mendampingi peserta menentukan rancangan desain apa yang ingin diwujudkan.

Peserta bekerja dalam kelompok-kelompok sesuai asal kelompok batik mereka. Kelompok batik Soka,  dari Sragen memilih mengembangkan berbagai produk aparrel atau pakaian wanita, begitu pun dengan Batik Mekar Jaya. Sementara itu kelompok Sumberbulu di Karanganyar memilih mengembangkan produk suvenir. “Soalnya kami ingin menyesuaikan kebutuhan, kan kami sedang mengelola desa wisata. Bagus kalau pengunjung bisa belanja suvenir batik,” ujar Kristin, salah satu peserta muda dari kelompok batik Sumberbulu.

Setelah tahap diskusi intens dengan personal, tiap kelompok memilih bahan dan jenis kain batik yang akan digarap.  Proses menentukan konsep hingga rancangan barangkali terasa agak intens untuk peserta, tapi begitu masuk ke tahap potong pola dan jahit peserta terlihat sumringah. Sebabnya hal in sudah lebih familiar untuk mereka. Tak butuh waktu lama, tiap kelompok peserta bisa menghasilkan 3- produk purwarupa hanya dalam waktu 3 hari pelatihan.

Rancangan desain merekapun berkembang. Jika dulunya banyak membuat tunik, blus, daster, atau baju-baju batik formal, kini desain mereka lebih “segar”. Putri, dari Batik Mekar Jaya membuat outer dari scarf batik yang diberi kancing. Desain yang sebetulnya sederhana tapi tak pernah ia pikirkan sebelum pelatihan ini. Mengkombinasikan batik dengan kain polos juga banyak dijajal oleh peserta.

Aneka produk purwarupa ini kelak akan dibuat lagi menggunakan kain batik hasil pelatihan Juli lalu. Kelak, di akhir program, produk-produk berupa kain dengan motif baru serta aneka produk fesyen, dekorasi rumah, dan suvenir ini akan dipamerkan dalam sebuah gelaran. Harapannya, para peserta bisa mengembangkan lebih banyak produk siap jadi yang tepat menyasar pasar millenial-urban yang digadang-gadang akan jadi pasar utama pariwisata Solo-Sangiran.

Bisma Jatmika, Direktur Industri Pariwisata dan Kelembagaan Kepariwisataan BOB di sambutannya saat penutupan program di Desa Girilayu menyampaikan optimismenya terhadap program ini. “Semoga pariwisata di Sragen dan Karanganyar semakin ramai, dan dampaknya bisa diukur, paling tidak lewat isi kantong kita semua nanti,” ujarnya. Ia antusias melihat hasil purwarupa yang dibuat peserta hanya yang begitu beragam, meski hanya dalam waktu singkat.

Pelatihan ini diadakan oleh Badan Otorita Borobudur (BOB) bekerja sama dengan tim ahli; Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan; Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran; Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kab. Sragen – Kab. Karanganyar; Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kab. Sragen – Kab. Karanganyar; dan stakeholder Pariwisata dan Ekonomi Kreatif terkait lainnya.