SEMUA BISA JADI KONTEN: BADAN OTORITA BOROBUDUR ADAKAN PELATIHAN BISNIS DAN PEMASARAN DIGITAL PERAJIN BATIK SRAGEN DAN KARANGANYAR
Jarak dan waktu adalah dua tantangan dalam pemasaran yang kini teratasi oleh media sosial. Saat ini fungsi berbagai kanal media sosial bertransformasi dari sekedar untuk berjejaring menjadi kanal utama untuk pemasaran digital. Instagram, Facebook, dan Whatsapp adalah tiga media sosial utama yang secara penuh memfasilitasi kegiatan pemasaran. Dan perkembangan ini patut diikuti juga oleh para pengusaha dan perajin batik di Indonesia. Untuk itulah, Badan Otorita Borobudur menggandeng tim ahli mengadakan pelatihan bisnis dan pemasaran digital pada 4-6 Oktober 2022 lalu di UNS Inn, Solo.
Sebanyak 16 peserta merupakan pemilik usaha dan perajin dari 16 rumah batik, yaitu Batik Sekar Tandjung, Batik Girilayu, Batik Mawastri, Batik Dewa Dewi dari kelompok Sekar Arum, Shoka Batik Prada Mas, Batik Batara Kresna, Kelompok Desa Wisata Sumberbulu, dan New Coral Ecoprint dari Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar.
Pelatihan bisnis dan pemasaran digital ini adalah tahap ketiga dari rangkaian program peningkatan kapasitas ekraf fesyen batik dari Badan Otoritas Borobudur. Di selenggarakan selama tiga hari, tim ahli menyusun kurikulum yang berkesinambungan dan sesuai dengan kebutuhan para peserta untuk meningkatkan bisnis batik.
Di hari pertama, tim ahli membahas soal tarket market. Saat ini, kebanyakan peserta memproduksi batik hanya berdasarkan kesukaan, hobi, atau trend yang ada, tanpa mempertimbangkan target market secara khusus. Dalam sesi ini, peserta diajak berlatih memetakan target market bisnis mereka dalam empat pendekatan analisa, yaitu: Demografi, Psikografi, Perilaku, dan Geografis. Empat pendekatan ini adalah pendekatan dasar dalam menganalisa yang menjadi pembelajaran bisnis di seluruh dunia. Selanjutnya, peserta diajak berdiskusi dan berkenalan tentang platform e-commerce. Peserta diberi pemahaman soal kelebihan dan kekurangan dari perdagangan e-commerce terutama untuk bisnis UKM. Secara khusus, Tokopedia dan Shopee dibahas sebagai studi kasus yang relevan dan diketahui peserta.
“Ternyata semua bisa jadi konten ya, saya pikir itu hal biasa ternyata yang seperti itu bagus juga kalau dilihat,” ujar salah satu peserta.
Setelah memetakan target market dan e-commerce di hari pertama, di hari kedua tim ahli berfokus pada materi pemasaran digital dan sosial media. Diketahui bahwa belum semua peserta melakukan pemasaran digital atau memiliki dan menggunakan media sosial sebagai kanal pemasaran, dengan berbagai macam alasan dan kendala masing-masing.
Materi soal strategi branding dibawakan. Materi ini krusial ketika peserta ingin memulai perjalanan di media sosial. Dengan cara menjawab beberapa pertanyaan, peserta diajak berlatih mengenal dan memetakan potensi brand masing-masing kemudian menceritakan di depan. Sesi ini jadi sangat menarik sebab peserta diajak berefleksi secara konseptual. Di akhir, disimpulkan bahwa tiap peserta sebetulnya punya identitas dan diferensiasi brand yang kuat dan beragam, di mana hal-hal tersebut adalah modal utama yang baik untuk membuat branding.
Peserta juga diajak belajar soal pengelolaan media sosial. Instagram, Facebook, dan Whatsapp adalah tiga kanal utama yang dibahas. Tiga kanal ini juga paling populer dan dikuasai oleh sebagian besar peserta, juga sesuai dengan target pasar tiap rumah batik. Selain belajar membuat rencana konten, besoknya peserta juga praktek membuat contoh konten kreatif.
“Ternyata semua bisa jadi konten ya, saya pikir itu hal biasa ternyata yang seperti itu bagus juga kalau dilihat,” ujar salah satu peserta.
Di akhir, tim ahli memungkasi pelatihan dengan materi soal perencanaan harga dengan berbagai metode. Misalnya harga premium, harga kompetitif, harga turun, dan promo. Pengetahuan praktis ini bisa langsung diaplikasikan. Perancangan harga krusial sekali dalam rangka keberlanjutan bisnis.
Selama tiga hari pelatihan, peserta diajak banyak berlatih. Harapannya, dengan metode ini materi yang disampaikan bisa lebih mengena dan berkesan untuk peserta. Pengetahuan soal bisnis dan pemasaran digital bisa jadi bekal yang strategis bagi para pengusaha dan perajin batik di Sragen dan Karanganyar untuk dapat mengembangkan bisnisnya, membawa batik ke pasar yang lebih luas. Dan pada akhirnya, mengenalkan kekayaan alam dan narasi dari tempat mereka ke publik yang lebih luas, tanpa terhalang jarak dan waktu. Sebab pemasaran digital adalah pintu yang bisa menghubungkan produk lokal dengan pasar global di luar sana.
.
