Sepekan setelah pembekalan dan pertemuan dengan seluruh anggota, tim Pendampingan Batik Fractal – LPS turun ke lapangan untuk mempersiapkan program. Setiap tim bergantian berangkat ke Sukabumi untuk mengerjakan tugasnya masing-masing.
Audiensi dengan Sukabumi Creative Hub dan Disparpora
Keberangkatan diawali oleh pemimpin program, keuangan, dan tim media sosial pada Jumat, 1 September 2023. Pada hari pertama ini, tim Batik Fractal bertemu dengan Ketua Sukabumi Creative Hub (SCH), Rendy Irlian Kamase beserta pengurus, untuk melakukan survei lokasi pelatihan, Rumah Kreatif Milenial Polres di Cikole, Sukabumi. Tempat ini juga merupakan sekretariat dan gerai produk lokal SCH. Namun, tempat ini perlu direnovasi dan dibersihkan lebih dulu agar lebih memadai untuk pelatihan.
Pada hari yang sama, tim Batik Fractal juga menjumpai Kepala Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata (Disparpora) Kota Sukabumi, Plt. Tejo Condro Nugroho, AP., M.T. Audiensi ini bertujuan memaparkan rencana kegiatan pelatihan dan kerja sama dengan SCH. Sambutan baik Tejo akan pelatihan ini diwujudkan dengan pemberian surat rekomendasi, rencana penempatan produk-produk batik Sukabumi sebagai perwakilan identitas Sukabumi, serta rencana promosi produk hasil pelatihan sebagai souvenir daerah.
Kunjungan ke Pembatik Sukabumi
Pada hari kedua, Sabtu, 2 September 2023, tim Batik Fractal memfinalisasi rancangan perjanjian kerja sama dengan Sukabumi Creative Hub, penyusunan rencana teknis perbaikan aula yang akan digunakan sebagai lokasi pelatihan, pembuatan rencana anggaran biaya (RAB), serta penentuan lokasi untuk kick-off pelatihan.
Sementara itu, pada saat yang sama, tim produk dan bisnis mulai berkunjung ke beberapa pembatik di Sukabumi sebagai langkah awal proses rekrutmen peserta pelatihan. Sebagai gambaran profil calon peserta, perajin ecoprint Nu Geulis yang menjadi tujuan utama kunjungan ternyata sudah memiliki satu tim lengkap. Selain memiliki penjahit dan perajin, mereka juga memiliki karyawan pemasaran, teknologi informasi, dan fotografer. Produk dipasarkan melalui marketplace dan media sosial, serta membuka galeri di alun-alun Sukabumi.
Kunjungan tim produk dan bisnis serta tim media sosial ke para pelaku usaha kecil menengah (UKM) batik ini akan berlanjut hingga beberapa hari ke depan. Dalam kunjungan ini, tim Batik Fractal juga mendapat banyak masukan berharga. Sebagai contoh, Diah, pemilik Pondok Batik, mengharapkan agar program-program kreatif, seperti pelatihan, kompetisi, maupun pameran dapat mengutamakan kategori kriya. Ia juga berharap bahwa kain batik sebagai hasil budaya perlu mendapat tempat tersendiri, tidak disatukan dengan kategori kreatif lainnya, seperti kuliner.
Selain itu, dalam kunjungan ini, tim Batik Fractal sekaligus membantu para perajin tersebut untuk mengisi formulir pendaftaran Pendampingan LPS-Batik Fractal. Hasil pengisian formulir ini akan dipakai untuk melakukan profiling dan kurasi agar peserta pelatihan dapat sesuai dengan kriteria dan kualifikasi yang dibutuhkan. Selanjutnya, akan dibuatkan kontrak komitmen agar peserta dapat mengikuti pelatihan hingga akhir.
