Agar dapat terukur, sebuah upaya pengembangan ekosistem perajin perlu dimulai dari pengamatan akan kondisi riil saat ini di lapangan. Tim Batik Fractal mengawali upaya pemahaman ini dengan mewawancarai beberapa tokoh yang selama ini berperan dalam pengembangan ekosistem pelaku ekonomi kreatif (ekraf) di Sukabumi.
Potensi Industri Fesyen Sukabumi
Dalam wawancara Tim Produk dan Bisnis dengan Rendy Irlian Kamase, Ketua Sukabumi Creative Hub (SCH), terungkap bahwa industri fesyen di Sukabumi masih sangat berkiblat ke Bandung. Pria yang akrab disapa Rio ini menyebut adanya beberapa distro lokal, seperti Scissor Apparel dan Black ID yang cukup dikenal sebagai brand Sukabumi. Namun, beberapa produsen yang mencoba bereksperimen dan menjual produk dengan harga relatif lebih tinggi lebih banyak memasarkan produknya ke luar Sukabumi.
Lalu lintas Kota Sukabumi sendiri sehari-hari terbilang cukup padat dengan arus pekerja dari dan ke berbagai sentra industri di kabupaten, seperti pabrik Nike, H&M, dan Uniqlo. Pada akhir pekan, pusat kota semakin padat dengan aktivitas perniagaan, terutama setelah dibukanya tol Bogor-Ciawi-Sukabumi. Dengan tol ini, perjalanan dari Jakarta ke Sukabumi yang tadinya ditempuh dalam waktu empat jam dapat dipangkas menjadi dua jam.
Terbukanya jalur transportasi baru ini berpeluang meningkatkan potensi wisata menjadi lebih besar. Perkembangan ini juga akan sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan akan produk khas Sukabumi, terutama untuk memenuhi kebutuhan hotel dan restoran. Kebutuhan ini akan meningkat pada masa tertentu seperti hari raya, juga wisuda Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Kepolisian Indonesia yang berada di Sukabumi.
Ritel Batik Sukabumi yang Belum Berkembang
Pasar ritel batik Sukabumi diakui Rio memang belum berkembang. Selama ini, produsen batik masih sangat mengandalkan pesanan dari pemerintah daerah. Selain itu, batik Sukabumi belum menunjukkan keunikan atau motif khas sehingga belum bisa bersaing di pasar nasional.
Beberapa pedagang juga sekadar membeli batik dari daerah lain, seperti Pekalongan dan Cirebon, kemudian menjualnya kembali dan melabelinya sebagai batik Sukabumi. Di samping itu, bahan baku pembuatan batik yang masih didatangkan dari luar Sukabumi membuat biaya produksi masih relatif tinggi.
Menurut Rio, hingga saat ini belum ada asosiasi yang mewadahi para pembatik. Ia mengakui bahwa egosentris para pembatik Sukabumi masih tinggi. Masing-masing pembatik masih saling klaim bahwa motif merekalah yang paling khas Sukabumi dan saling berebut pasar batik yang memang masih terbatas.
Situasi ini memerlukan kehadiran pihak lain seperti Batik Fractal yang mengundang para pembatik ini untuk bertemu dan bekerja sama menghasilkan produk. Rio sendiri berpesan untuk tidak perlu berupaya menyatukan para perajin ini untuk menghasilkan satu desain motif tunggal khas Sukabumi. Masing-masing dapat menciptakan motifnya sendiri yang kemudian menjadi ciri khas masing-masing daerah di kota/kabupaten ini.
Batik Khas Sukabumi dengan Kearifan Lokal
Senada, Sekretaris Himpunan Pengusaha Mudah Indonesia (HIPMI) Sukabumi, Hadi Sumanjaya, menyatakan perlunya produk batik yang mengandung filosofi. Seringkali, wisatawan tertarik pada cerita dengan latar belakang kearifan lokal yang tercermin dalam motif.
Saat ini, bisnis batik belum berkembang antara lain karena pelatihan bisnis dari pemerintah umumnya hanya terbatas untuk pelaku sektor industri makanan dan minuman. Selain itu, kebanyakan pekerja juga lebih memilih untuk bekerja di pabrik garmen daripada di produsen batik yang merupakan usaha rumahan. Padahal, keterbatasan sumber daya alam di Sukabumi seharusnya membuat ekonomi kreatif dapat menjadi andalan.
Lebih jauh, dalam diskusi dengan Dinas Pemuda, Olahraga, dan Kebudayaan (Disparpora), terungkap bahwa produsen batik kesulitan menjual batik pada pasar menengah ke bawah. Di sisi lain, biaya produksi juga masih belum bisa ditekan karena ketergantungan pada bahan baku dari luar daerah.
Bekerja sama dengan SCH, Disparpora sendiri telah rutin memberikan hibah Danakitri, yaitu program yang memberikan dana stimulan kepada pelaku ekonomi kreatif di Kota Sukabumi. Akan tetapi, stimulan perlu tetap didukung adanya pelatihana agar para perajin batik dapat meningkatkan kualitas produk.
