Setiap motif batik di berbagai daerah di Indonesia mencerminkan sejarah, budaya, dan bentang alam di mana karya itu diciptakan. Motif-motif batik ini menjadi milik sekaligus identitas dan ciri khas suatu daerah yang memperkaya budaya nusantara.
Untuk itu, dalam penciptaan sebuah motif baru, diperlukan penggalian budaya yang kemudian menjadi landasan dan latar belakang motif. Penggalian budaya ini juga menjadi titik tolak pendampingan yang akan dilakukan Batik Fractal dan LPS sebelum memulai pelatihan desain motif batik.
Menyambangi Museum, Menelusuri Budaya
Penulis dan antropolog tim Batik Fractal memulai penelusuran sejarah dan budaya Sukabumi dengan mengunjungi Museum Prabu Siliwangi pada 5 September 2023. Museum yang didirikan oleh Kyai Muhammad Fajar Laksana ini berada dalam lingkungan Pondok Pesantren Al-Fath, Sukabumi. Dapat dipahami bahwa semua pemaknaan dalam elemen-elemen yang ditampilkan ditarik ke keislaman.
Secara umum, terdapat tiga elemen yang paling menarik dan saling terhubung, yaitu lisung, maung, dan kujang. Menurut Muri, pemandu museum, masing-masing benda ini dapat diidentifikasi menjadi tiga bagian, yaitu kepala, badan, dan ekor.
Lisung Pajajaran merupakan alat penumbuk padi yang dapat bermakna filosofis, yaitu sebuah negara/organisasi. Lisung ini memiliki tiga lubang, yaitu liang Batarasungki yang berada pada bagian paling depan, bermakna kekuatan pemimpin. Lubang panjang di tengah, yaitu liang Sanghyang Agung yang bermakna kekuatan dari Sang Maha Kuasa. Selanjutnya, liang Panjanang yang berada di belakang, menggambarkan kekuatan rakyat. Secara keseluruhan, lisung menggambarkan bahwa suatu negara akan baik jika memiliki tiga kekuatan yang menyatu, yaitu ketakwaan kepada Allah, kekuatan dari pemimpin, dan kekuatan rakyat.
Elemen kedua yaitu maung. Dalam banyak cerita dari Tanah Pasundan, Maung Bodas dipercaya sebagai macan putih gaib pengawal Prabu Siliwangi. Macan ini diceritakan dikalahkan oleh Siliwangi yang saat itu masih bergelar Prabu Pamanahrasa dalam pertempuran sengit di Curug Sawer.
Sementara itu, kujang berasal dari kata ‘kudi’ (senjata) dan ‘Hyang’ (Tuhan/dewa). Dengan demikian, kujang adalah senjata yang mengandung kekuatan dewa. Terdapat 13 rupa kujang di museum ini dengan nama dan makna masing-masing. Menurut Muri, kujang adalah simbol kekuatan di dalam diri.
Sebagai padepokan pencak silat, Pondok Pesantren Al-Fath menciptakan beberapa kesenian yang kemudian mereka klaim sebagai kebudayaan khas Sukabumi. Kesenian pertama yaitu Ngagotong Lisung Ngamuk, yaitu seni pertunjukan menggotong lisung diiringi gamelan. Kesenian lain adalah permainan Bola Lengeun Suneu (boles), yaitu memainkan bola api dengan tangan. Selain itu, santri Al-Fath juga memainkan Pecut Seneu atau pecut api yang biasanya dipertunjukkan bersamaan dengan boles.
Membaca Sejarah Sukabumi dari Museum
Museum Pegadaian didirikan di Sukabumi karena di kota inilah pegadaian pertama didirikan pada 1901, saat itu disebut Bank van Leening. Dalam kunjungannya ke museum ini, tim Batik Fractal menemukan bahwa pada masa lampau, kain batik tulis bernilai tinggi sehingga dapat digadaikan. Demikian juga di Sukabumi, meskipun kemungkinan besar kain batik yang ditransaksikan ini berasal dari daerah lain, seperti Jawa Tengah.
Selanjutnya, tim berkunjung ke Museum Tionghoa yang didirikan oleh kelompok warga Tionghoa Sukabumi di daerah Pecinan, Warudoyong, Sukabumi. Terdapat dokumentasi tokoh-tokoh Sukabumi Tionghoa pejuang kemerdekaan, serta banyak benda rumah tangga peninggalan masa lalu. Di museum ini, tim mendapatkan buku Sukabumi yang diterbitkan oleh Soekabumi Heritage.
Kunjungan berlanjut dengan wawancara dengan Fawaz, pengelola Museum Ki Pahare. Museum ini dibentuk oleh komunitas pelestari budaya Sunda. Di sini, antropolog Batik Fractal berdiskusi untuk mengulik praktik budaya Sunda di Sukabumi yang menurut Fawaz sudah makin memudar. Beberapa tradisi yang sudah jarang digelar yaitu Ngakuluan Sanghyang, Bakti Purnama Sari, Ngabuka Cacahan, dan Serang Panggokan.
Menurut Fawaz, Ciptagelar atau kini disebut Gelaralam, merupakan kasepuhan yang masih menjadi kiblat mereka dalam berbudaya. Maung sendiri, Fawaz menuturkan, merupakan akronim dari ‘manusia unggulan’, yaitu manusia yang berakhlak, baik, dan jujur, serta memiliki kewibawaan.
Adapun Ki Pahare sendiri merupakan nama tanaman pandan suji yang dalam legenda dianggap sebagai tanaman dari khayangan. Pohon ini dianggap cukup sakral bagi masyarakat Sukabumi dan digunakan dalam beberapa ritual adat. Sebutan “ki” digunakan untuk mengagungkan atau mempersonifikasi pohon atau alam sebagai sosok yang dihormati.
Sowan ke Kasepuhan Gelaralam
Penggalian budaya dalam kunjungan perdana persiapan pelatihan ini berpuncak pada kunjungan ke Kasepuhan Gelaralam, Kabupaten Sukabumi, pada Kamis, 7 Agustus 2023. Diperlukan waktu sekitar 4,5 jam perjalanan dari Sukabumi ke Gelaralam yang berada di kaki Gunung Halimun ini. Setengah jam perjalanan terakhir hanya dapat ditempuh dengan menumpang sepeda motor warga lokal.
Tim Batik Fractal yang terdiri dari antroplog, penulis, fotografer, dan media sosial, disambut dengan baik oleh keluarga Kang Yoyo, narahubung Gelaralam, serta Abah Ugi, pemimpin adat Gelaralam. Temuan terpenting dalam diskusi dengan Kang Yoyo adalah bahwa bagi warga Gelaralam, padi merupakan entitas yang sangat sakral dan sumber kehidupan untuk mereka. Menjual padi bisa diartikan sama dengan menjual nyawa. Oleh karena itu, segala jenis motif batik atau bentuk yang berhubungan dengan padi sangat tidak dianjurkan, baik akar, batang, daun, hingga bulir padinya.
Prosesi memasak hingga makan sendiri adalah prosesi sakral bagi masyarakat Gelaralam. Saat makan, perempuan harus mengenakan kain sinjang atau samping kebat, dan pria harus mengenakan ikat kepala.
Filosofi hidup seperti Masagi dan Tritangtu sudah lama dihidupi oleh warga Gelaralam, hanya saja dengan sebutan yang berbeda. Setiap kali akan menanam padi, mereka membuat pungpuhunan yang berbentuk segi empat dengan ujung yang menjorok keluar di tiap-tiap sudutnya, yang mencerminkan Masagi. Sudut yang menjorok ini menyimbolkan empat arah mata angin yang disebut juga ‘opat kalima pancer’ atau ‘pancaopat’.
Selain itu, warga Gelaralam memegang Tritangtu sebagai pedoman hidup, meski tidak dalam sebutan yang sama. Konsep ini diterjemahkan ke dalam narasi ‘tilu sapamulu dua sakarupa nu hiji eta kene’, yaitu asalnya tiga sepermulaan (sara, nagara, mokaha atau syareat, tarekat, hakikat, makrifat). Maknanya, sepasang keseimbangan, diakhiri dengan inti dari segala hal yang berpusat pada hal yang satu, yaitu Pencipta. Keseimbangan sendiri adalah prinsip hidup yang dipegang teguh oleh masyarakat Gelaralam. Bahwa setiap hal di dunia ini berpasangan. Adat dan negara, modernitas dan budaya, kebaikan dan keburukan.
Meski demikian, tidak semua pertanyaan yang diajukan tim Batik Fractal terjawab karena semua merujuk pada pedoman bahwa “tidak semua bisa dibicarakan dan ada saat atau waktu yang tepat untuk membicarakannya.”
