Sehari sebelumnya, peserta UMKM fashion Pelatihan Batik Fractal – LPS sudah belajar mengenal dan merancang koleksi dan fashion image board. Pada 8 Oktober 2023, giliran peserta UMKM suvenir belajar merancang koleksi dan images board suvenir dan dekorasi rumah. 

Pelatihan diawali dengan berbagi pengalaman aneka kebutuhan produk yang berpeluang berkembang dan belum tergarap di Sukabumi dan Cianjur. Dari diskusi singkat ini, peserta sudah dapat mengidentifikasi bahwa aksesori atau produk batik bukan kain dapat diolah menjadi oleh-oleh, padu padan aksesori batik dengan motif senada, bingkisan perusahaan, hingga bingkisan event. Pasar ini menjadi peluang di Sukabumi dan Cianjur yang belum tergarap dengan baik.

Sebagai inspirasi, fasilitator Batik Fractal, Nurul Lathifah dan Annisa Fauziah memaparkan berbagai contoh produk jenama dengan koleksi yang sudah banyak dikenal dan dibeli orang. Nancy Margried, fasilitator dan pendiri Batik Fractal, mengingatkan bahwa dengan kualitas yang baik, produk yang berharga tinggi pun tidak menjadi masalah jika ditawarkan pada konsumen yang tepat.

Seperti kelas pelatihan fesyen pada hari sebelumnya, setelah pemaparan materi, peserta diajak untuk mengenal dan membuat kreasi image board, kemudian mempresentasikannya. Image board ini berisi kata kunci desain, daftar rencana produk, gambar/sketsa produk, serta skema warna.

Jumlah peserta yang terbatas membuat semua peserta mendapat kesempatan mempresentasikan board-nya. Dari hasil presentasi, sudah terlihat banyak peserta yang menunjukkan kemampuan yang baik dalam merencanakan koleksi, mulai dari seminar kit, bingkisan untuk pria, hingga home decor dengan nuansa tertentu yang spesifik.

LPS Batik Fractal
LPS Batik Fractal
LPS Batik Fractal
LPS Batik Fractal

Merancang Gaya Busana dan Praktik Berkain  

Keesokan harinya, 9 Oktober 2023, pelatihan untuk UMKM fashion dilanjutkan kembali dengan materi fashion styling. Fasilitator Batik Fractal, Bella Annesha dan Nurul Lathifah, membuka pelatihan dengan pemaparan materi tentang tips padu padan busana dan aksesori sesuai karakter, suasana, dan kebutuhan. Bella dan Nurul kemudian juga mendemonstrasikan padu padan aksesori. Terjadi diskusi pada beberapa pembahasan, seperti materi warna monokrom dan perspektif pilihan gaya busana.

Beberapa peserta sudah menunjukkan pengetahuan tentang padu padan pakaian dan aksesori, seperti proporsi dan komposisi. Menurut Effendi, pemilik Batik Sukuraga, rasa harus terlibat saat mempadupadankan busana dan aksesori. Selain itu, menurut Dany dari Batik Nidong, dan Faluzia dari Rajafa Collections, pemilihan dan penggunaan aksesori dapat menunjukkan karakter seseorang.

Nancy mengingatkan bahwa dari perspektif pengguna, tidak ada yang salah atau benar dalam pemilihan busana, hanya ketepatannya dengan kebutuhan dan waktu. Namun, sebagai pebisnis, peserta harus dapat melihat dari sisi pasar dan menciptakan produk yang sesuai dengan permintaan pasar.

Suasana ruang kelas menjadi riuh ketika kemudian fasilitator mengajak peserta untuk praktik fashion styling dengan produk mereka sendiri. Semua peserta dengan antusias memakaikan busana dan aksesori mereka pada manekin-manekin. Beberapa peserta terlihat memamerkan lebih dari satu look. Batik Sukuraga dan Angglang Daun Ecoprint  juga telah berkolaborasi memadupadankan busana yang mereka bawa masing-masing menjadi satu tampilan.

Selepas jeda istirahat siang, praktik berlanjut dengan styling berkain. Bella mencontohkan dan memandu peserta untuk mempraktikkan enam gaya berkain, yaitu gaya serut tengah, jarik ikat kipas, gaya rumbai setengah, kemben celana, gaya lipatan depan, dan halter neck selendang. Bella juga mengundang Usu dari Fordan Collection untuk mempraktikkan berkain dengan gaya lipatan celana. Selanjutnya, selain menggunakan kain sebagai bawahan, peserta juga diajak untuk styling kain sebagai hijab.

LPS Batik Fractal
LPS Batik Fractal
LPS Batik Fractal

Peragaan Busana di Kelas Pelatihan

Suasana kelas makin meriah ketika peserta mulai bersiap memeragakan padu padan busana mereka masing-masing. Selasar di antara meja pelatihan menjadi ruang tempat mereka melenggak-lenggok seperti model catwalk. Semua peserta saling menyemangati satu sama lain. Hal yang paling menghangatkan adalah keakraban yang terjalin di antara para peserta.

Pelatihan ditutup dengan beberapa presentasi motif kain-kain produk yang sedang dikenakan peserta. Faluzia misalnya, menceritakan motif condre, senjata khas Cianjur, dan motif padi pandanwangi yang ada pada kain produksinya, Rajafa. Sementara itu, Usu dari Fordan menceritakan motif mega mendung garutan pada sarungnya, serta memamerkan gaun malam yang pertama ia buat.

LPS Batik Fractal
LPS Batik Fractal
LPS Batik Fractal
LPS Batik Fractal