Dari tangan pembatik Indonesia, tiga kain Jinju Batik siap dipamerkan, membawa doa baik agar sang Phoenix kembali pulang
Kain-kain yang didominasi warna biru, hijau, dan oranye itu terlihat menjuntai tergantung di tali. Air menetes-netes di ujungnya, tanda masih basah. Azam, pembatik dari Desa Ketandan Kabupaten Pekalongan, baru saja mengangkatnya dari bak pelorotan. Proses akhir pembuatan batik, kini tinggal menunggu kain terjemur hingga kering. “Akhirnya selesai, kemarin proses yang lama itu saat
nyanting (menggambar menggunakan lilin),” ujar Azam, ia menceritakan proses produksi Jinju Batik. Dari tiga jenis motif dan gaya batik yang di proyek kolaborasi Jinju Batik, Azam mengerjakan motif “Kukila Rawuh Wedari” dengan gaya batik buketan khas pesisir atau Pekalongan.
Sejak Agustus lalu, motif yang sebelumnya dibuat menggunakan software jBatik telah beralih ke para pembatik di Karanganyar, Pekalongan, dan Tuban. Semuanya menggunakan teknik batik tulis tradisional, demi menjamin kualitas motif dan kain Jinju Batik yang dihasilkan. Kini, setelah tiga bulanan menunggu, ketiga kain Jinju Batik telah selesai dan siap dipamerkan.
Memakan waktu cukup lama, hasil akhir kain-kain Jinju Batik tak mengecewakan. Tiap jenis kain sutera Jinju berhasil dieksekusi menjadi kain batik kualitas tinggi, dengan motif yang detail dan warna yang menyala. “Sempat agak kesusahan pas bagian nyorek (sketsa) sih soalnya kainnya licin, tapi justru jadi tantangan. Seru, karena kami belum pernah,” cerita Maryati, pembatik di Karanganyar yang mengerjakan “Sida Mulih” khas Keratonan.
Dari warnanya, sekilas kain Jinju Batik nampak sangat menonjolkan identitas warna tiga gaya batik Indonesia, yaitu batik keratonan dengan coklat dan emasnya, lalu batik buketan yang warna-warnanya cerah, serta batik tuban dengan bentuk khas duri-duri di motif utamanya. Namun di saat yang sama, motif soal Bibongsan atau Phoenix ini memberi kesan baru dan segar karena belum pernah ada di Indonesia sebelumnya. Tampilan ketiga kain Jinju Batik memberi rasa kolaborasi yang kental antara tradisi Indonesia dan Korea Selatan.
Ketiga kain Jinju Batik ini akan segera dipamerkan di kantor KOFICE (Korean Foundation for International Cultural Exchange) di Jakarta, akhir November 2023 ini.
Setelah itu, kain-kain ini akan dibawa pulang ke kota Jinju. Selain menunjukkan potensi penggarapan kain sutera khas Jinju menjadi batik, kain-kain ini akan jadi perwujudan doa masyarakat Jinju agar sang Phoenix kembali.
“Nggak apa-apa kain batiknya dulu aja yang berangkat ke Korea, semoga kelak saya bisa menyusul membatik di Korea Selatan ya!,” tutup Maryati sumringah.
