Dibuat dengan software jBatik, motif-motif Jinju Batik yang mengeksplorasi cerita rakyat ditorehkan ke kain dengan teknik batik tradisional.
Proses kolaborasi Jinju Batik terus berlangsung dan kini tengah berada di proses produksi kain-kain batiknya. Jinju Batik sendiri merupakan proyek kolaborasi antara Batik Fractal dan JInju Creative and Tourism Forum (JJCT) dari kota Jinju di Korea Selatan.
Seperti halnya batik Indonesia yang selalu menyimpan cerita di balik motifnya, Jinju Batik mengangkat cerita rakyat dari Korea Selatan yaitu legenda Bibongsan atau Phoenix di kota Jinju. Legenda ini berkisah tentang burung Phoenix yang zaman dahulu dipercaya menaungi Pegunungan Daebongsan, yang kini wilayah Jinju. Keberadaan Bibongsan di sana membawa kejayaan bagi masyarakat, khususnya bagi keluarga dinasti Goryeo yang berkuasa di sana. Kekuasaan Dinasti Goryeo runtuh abad 14 karena pembantaian keji. Bersamaan dengan runtuhnya keluarga Goryeo, burung Phoenix menghilang dari Pegunungan Daebongsan hingga hari ini.
Kerinduan masyarakat Jinju terhadap kembalinya Bibongsan inilah yang diwujudkan jadi motif Jinju Batik menggunakan jBatik, software untuk menciptakan motif batik digital buatan Batik Fractal. Ketiga motif yang tercipta didesain menjadi tiga gaya batik Indonesia, yaitu Batik Keratonan versi Surakarta, Batik Buketan versi Pekalongan, dan Batik Ren-renan versi Tuban.
Demi menunjukkan tradisi batik dalam bentuknya yang paling otentik, Batik Fractal juga memproduksi ketiganya menggunakan teknik batik tulis tradisional. Menggunakan canting dan keahlian tangan, di tiga kota sesuai tiap gaya batik yang dibuat.
“Karena batik Indonesia kan banyak sekali jenisnya, kami memutuskan memilih tiga sebagai representasi kekayaan khasanah batik nusantara,” jelas Nancy Margried, CEO Batik Fractal.
Azam, pembatik yang mengerjakan Jinju Batik versi buketan mengatakan Jinju Batik adalah pengalaman baru baginya, “Motifnya sih hampir sama dengan batik sini, tapi ternyata ceritanya soal Korea Selatan ya? Yang sebetulnya menantang itu jenis kainnya, tebal sekali,” ujarnya.
Tantangan serupa juga dihadapi Maryati, pembatik tulis dari Desa Girilayu, Karanganyar yang mengerjakan Jinju Batik versi keratonan. “Kami belum pernah pakai kain yang seperti ini, jadi lunyu (licin), tapi jadi kok. Menarik malahan, soalnya belum pernah,” jelasnya tersenyum.
Berbeda dari jenis kain biasanya, kain-kain yang dipakai untuk Jinju Batik adalah sutra Jinju. Selain dikenal sebagai salah satu kota destinasi wisata di Provinsi Gyeongsang Selatan, Jinju dikenal karena industri sutranya yang mendunia. Tak heran, ini jadi tantangan sekaligus kesempatan baru bagi para artisan batik di daerah.
“Tapi ternyata batik Indonesia dan Korea Selatan ada miripnya, gambar ini,” Maryati menunjuk motif Phoenix, “Kalau di Indonesia namanya Gurda (garuda), ternyata di Korea namanya Phoenix. Padahal jauh banget ya Korea Selatan, ternyata ada hubungannya,” ceritanya.
Maryati dan Azam adalah dua dari belasan pembatik yang terlibat dalam proses pembuatan kain-kain Jinju Batik. Tangan-tangan mereka telah terampil berkat puluhan tahun pengalaman menangani canting, menuliskan lilin, hingga melakukan pewarnaan, hingga kain jadi sempurna.
“Saya bisa memproduksi batik dengan semua teknik, tapi memang batik tulis menghasilkan kain yang lebih bagus dan nyeni kualitasnya,” tegas Azam. Ia tak keberatan meski prosesnya memakan waktu lebih lama, sebab nilai otentik dan kualitas batik tulis memang tak bisa diduplikasi oleh kain batik yang menggunakan teknik lain seperti cap atau printing.
Di Indonesia, motif batik tertentu yang diwujudkan lewat teknik tulis dipercaya punya energi magis, seperti doa. Kain-kain batik tulis bahkan biasa jadi warisan yang diberikan antar generasi di keluarga.
Jinju Batik sendiri, dimaksudkan sebagai perwujudan doa masyarakat Jinju agar sang Phoenix kembali ke Pegunungan mereka. Seperti untaian doa dan sesaji, motif-motif Jinju Batik diwujudkan lewat tangan-tangan terbaik pembatik Indonesia.
