Sebelum pameran final yang akan diadakan pada Januari 2024, Batik Fractal-LPS menggelar Re-Creation Batik Sukabumi – Cianjur, sebuah kegiatan yang memberikan art experience kepada masyarakat umum. Dalam event yang digelar pada Sabtu, 30 Desember 2023 di Bale Jayaniti, Sukabumi ini dihadirkan berbagai acara, yaitu Batik Experience dan jBatik Expose, gelar wicara, pop-up market, pameran motif, dan pertunjukan seni.
Event yang dihadiri oleh Penjabat (Pj) Wali Kota Sukabumi, Kusmana Hartadji; Sekretaris LPS, Dimas Yuliharto, dan Ketua Dekranasda Sukabumi, Diana Rahesti ini diharapkan dapat mengedukasi dan memperkenalkan berbagai inovasi batik, sekaligus menjadi wadah rekreasi budaya bagi masyarakat sekitar.
Road to Final Exhibition
Re-Creation Batik Sukabumi – Cianjur merupakan event pendahuluan sebelum Pameran Final Program Pendampingan dan Pengembangan Ekosistem Batik Tradisi Sukabumi – Cianjur melalui Transformasi Digital. Dalam pameran final dan pertunjukan busana ini ditampilkan aneka kain dan produk batik hasil Pelatihan Batik Fractal-LPS.
Pelatihan yang diikuti 30 UMKM Sukabumi dan Cianjur ini telah berlangsung sejak September hingga November 2023. Melalui Program LPS Peduli Bakti Bagi Negeri, sebagai wujud dari kegiatan sosial kemasyarakatan/corporate social responsibility (CSR), bekerja sama dengan Batik Fractal, LPS memberikan rangkaian pelatihan untuk UMKM batik Sukabumi Cianjur. Pelatihan ini meliputi penggunaan aplikasi jBatik, pengembangan produk fesyen dan suvenir, pelatihan bisnis, perencanaan media sosial dan branding, serta pelatihan foto produk.
“Pelatihan tahap satu ini telah melahirkan kreasi baru Batik Sukabumi dan Cianjur yang berakar pada tradisi melalui eksplorasi teknologi digital Batik Fractal,” ungkap Yun Hariadi, Chief of Research Batik Fractal dalam sambutannya. Dengan dukungan penuh oleh LPS, pembatik Sukabumi dan Cianjur telah belajar memanfaatkan teknologi digital Batik Fractal untuk menciptakan beraneka ragam kreasi batik modern. “Ini merupakan proses panjang. Langkah awal sudah dimulai pada pelatihan tahap satu ini dengan hasil yang luar biasa. Maka pada kesempatan pameran ini, pengalaman berkreasi melalui jBatik Batik Fractal akan ditularkan kepada khalayak,” ia menambahkan.
Menurut Sekretaris LPS, Dimas Yuliharto, dalam pelatihan ini, UMKM diberi pembekalan tentang cara memasarkan produk. “Targetnya bagaimana batik Sukabumi Cianjur dapat lebih dikenal. Kendalanya hanya masalah waktu. Kita ingin semua cepat terlaksana, tapi tetap harus step by step,” ungkapnya. Ke depannya, Dimas akan mengoordinasikan bantuan pemerintah untuk para pelaku UMKM. Dengan CSR LPS, para UMKM ini akan terus didukung agar berkembang.
Sementara itu, dalam sambutannya, Pj Wali Kota Sukabumi, Kusmana Hartadji, mengucapkan terima kasih atas dukungan LPS dan Batik Fractal dalam memajukan potensi daerah. Kusmana menyebut bahwa disrupsi di segala bidang terutama digitalisasi bukan lagi pilihan, tapi kewajiban.
Sebagai bentuk dorongan pemerintah dalam upaya pengembangan batik, pemerintah ikut membentuk iklim pasar bersama Dekranasda dengan Komite Ekonomi Kreatif. “Misalnya, akan kita bawa produk-produk batik ini di berbagai event, baik tingkat nasional, regional, dan internasional,” ujar Kusmana.
Hal ini sejalan dengan pernyataan Ketua Dekranasda Sukabumi, Diana Rahesti, dalam sambutannya. “Tentunya kami sangat mendukung diselenggarakannya acara ini sebagai salah satu upaya untuk menjaga warisan budaya yang sudah berlangsung turun temurun, generasi ke generasi.” Dukungan ini ditunjukkan Dekranasda dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Dekranasda dengan Batik Fractal.
Ia berharap acara ini akan menjadi pemantik agar industri batik di Kota Sukabumi semakin berkembang, juga dapat menciptakan sebuah identitas karakter baru batik Sukabumi yang semakin digemari anak muda.
Pengalaman Berbatik Baru bagi Masyarakat
Walau hujan mengguyur selama acara, tapi pengunjung tetap antusias mencoba berbagai wahana untuk berkreasi batik. Rangkaian acara dibuka dengan Bimbingan Berkain. Sebelas pengunjung belajar mempraktikkan lima gaya berkain kekinian, mengikut panduan dan pendampingan para fasilitator Batik Fractal. “Seru, dapat ilmu baru. Kebetulan saya memang sedang banyak acara yang membuat saya perlu berkain, ujar Dinda (16), salah satu peserta Bimbingan berkain. Dari lima gaya yang diajarkan, berkain dengan gaya silang adalah yang paling ia sukai.
Bersamaan dengan pelatihan berkain, dibuka juga Batik Experience, yaitu sebuah ruang pengenalan sekaligus edukasi tentang penggunaan piranti lunak jBatik untuk menciptakan dan mengembangkan motif batik. Di sini, pengunjung dapat menyaksikan dan mencoba sendiri proses pembuatan batik cap dan batik tulis.
Salma, mahasiswi STISIP Syamsul Ulum yang mengikuti praktik mencolet mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya ia membatik. “Seru karena bisa mencoba sendiri,” ujarnya sambil memperlihatkan selembar kain bermotif yang sudah ia warnai dengan canting. Dalam proses berkreasi dalam berbagai tahapan membatik, pengunjung didampingi oleh para pembatik UMKM peserta Pelatihan Batik Fractal-LPS.
Selain itu, masyarakat juga berkunjung ke pop-up store para peserta pelatihan Batik Fractal-LPS, yaitu bazar fesyen dan kriya dengan berbagai varian produk, motif, dan jenis. Sementara itu, dalam pameran motif, pengunjung dapat menyimak berbagai kain kreasi motif batik yang telah dikembangkan dalam program pelatihan.
Sembari mengikuti rangkaian kegiatan, pengunjung juga dihibur dengan iringan musik serta penampilan tarian tradisional Sukabumi oleh Gaya Gita Studio, diakhiri penampilan kelompok musik Lises Asmarandana dan Boy Hylmi.
Resolusi Batik Sukabumi Cianjur
Hadir juga gelar wicara inspiratif tentang pengembangan industri batik bertajuk Resolusi Batik Sukabumi Cianjur. Gelar wicara yang dipandu oleh Nancy Margried, Chief of Executive Officer Batik Fractal ini menghadirkan Sekretaris LPS, Dimas Yuliharto; Ketua Dekranasda Sukabumi, Diana Rahesti; Muhamad Lukman, Chief of Design Batik Fractal; serta perwakilan peserta Pelatihan Batik Fractal-LPS, Fona Melania pemilik Batik Lokatmala, Sukabumi, serta Asep Hermawan, pemilik Batik Sawargi, Cianjur.
Dimas Yuliharto mengungkapkan bahwa CSR LPS sudah berjalan selama lima tahun dan memberikan bantuan dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, UMKM, dan kesehatan. “Kami melihat bahwa potensi UMKM batik ini luar biasa tapi masih kurang digarap. Terutama di kota-kota kecil,” katanya. Potensi peningkatan perekonomian di Sukabumi ini semakin nyata dengan dibukanya tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi).
Secara khusus, Dimas menyampaikan apresiasinya atas training of trainer yang sudah diberikan Batik Fractal untuk peserta pelatihan. “Agar nanti setelah Batik Fractal tidak lagi di Sukabumi, tetap akan ada pembatik lokal yang akan terus memberikan ilmu dan praktiknya kepada warga lain,” kata Dimas. Ke depannya, Dimas berharap bahwa Sukabumi dan Cianjur dapat menjadi sentra batik baru di Jawa Barat.
Sementara itu, sebagai perwakilan UMKM, Fona berharap bahwa dengan adanya Program Batik Fractal-LPS, Sukabumi tidak perlu waktu terlalu lama untuk dikenal sebagai sentra batik. “Batik Cirebon kan perlu ratusan tahun. Semoga Sukabumi tidak perlu selama itu,” Fona berucap. Senada dengan Fona, Asep yang merupakan perwakilan UMKM Cianjur menambahkan, “Saya berharap pelatihan ini juga bisa dilaksanakan dan didukung oleh pemerintah Cianjur.” Selama ini, para peserta dari Cianjur memang harus menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam untuk mengikuti pelatihan di Sukabumi.
Program Pelatihan Batik Fractal-LPS ini ditargetkan akan berlangsung hingga 2025. Dalam jangka panjang, program ini diharapkan dapat menjadikan batik Sukabumi dan Cianjur menjadi tuan rumah di daerah sendiri, dikenakan setiap generasi, serta mampu bersanding dengan aneka batik nusantara di panggung nasional dan internasional.
