Pengetahuan tentang batik sangat diperlukan sebelum Tim Ahli Batik Fractal-LPS mendampingi para peserta dalam pelatihan tahap dua. Oleh karenanya, pada Jumat, 17 Mei 2024 lalu, Tim Ahli Batik Fractal mengunjungi Museum Batik Indonesia untuk memperbarui pengetahuan mereka tentang batik.
Museum Batik Indonesia
Museum Batik Indonesia berlokasi di dalam area Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Museum yang dibangun oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini resmi dibuka sejak 2023 dan saat ini berada di bawah pengelolaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Pada bagian depan bangunan museum, pengunjung akan dengan mudah melihat motif batik kawung.
Tim Ahli disambut oleh pemandu Museum Batik, Swa Setyawan Adinegoro yang kemudian menceritakan berbagai informasi seputar batik dari satu panel ke panel lain. Ruang pameran tetap Museum Batik sendiri terbagi menjadi tujuh, yaitu Ruang Sejarah Batik Nusantara, Ruang Khazanah Batik Nusantara, Ruang Teknik Pembuatan Batik, Ruang Penggunaan Batik secara Tradisional, Ruang Perkembangan Batik, Galeri Kemasyuran, serta Ruang Kesimpulan. Terdapat ruang audiovisual tempat pengunjung dapat menyaksikan video proses membatik, juga media-media interaktif yang dapat diakses pengunjung untuk menemukan informasi.
Amba dan Titik
Rangkaian panel dibuka dengan penjelasan tentang asal mula kata batik sendiri, yaitu ‘amba’ dan ‘titik’. Batik berarti menitikkan malam (lilin panas) sebagai perintang warna, menggunakan canting, pada selembar kain untuk membentuk motif yang terdiri atas susunan titik dan garis. Motif batik sendiri sebenarnya sudah muncul sejak masa kerajaan dalam ornamen arsitektur, juga pada arca.
Setelah mempelajari kembali aneka jenis bahan untuk membatik sekaligus berbagai jenis pewarna alam dan sintetis, pemandu kemudian memperlihatkan tiga kain batik dengan motif sama. Pemandu kemudian mengajak Tim Ahli untuk mengenali perbedaan di antara ketiganya yang ternyata diproduksi dengan cara berbeda, yaitu batik print, batik tulis, dan batik cap. Ternyata kemampuan untuk membedakan ketiganya bukan hal yang mudah, terutama bagi orang yang tidak terbiasa mengulik kain batik.
Hal lain yang menarik perhatian adalah informasi tentang tokoh-tokoh yang berjasa dalam perkembangan batik Indonesia. Pada 1972, Ali Sadikin, Gubernur Ibukota Jakarta pada 1966-1977, menetapkan batik sebagai pakaian resmi untuk pria di wilayah Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Ketetapan ini membuat batik yang tadinya terbatas dikenakan sebagai bawahan, kemudian mulai dikenakan sebagai busana atasan.
Peran tokoh-tokoh batik lain juga tak kalah penting. Pada 1925, Oey Soe Tjoen mendirikan Batik Oey Soe Tjoen yang terkenal dengan batik Cina peranakan dan batik tulis motif pesisir. Sementara itu, Go Tik Swan menciptakan batik dengan perpaduan corak klasik keraton dengan gaya pesisir. Tokoh lain yang tidak kalah penting adalah Iwan Tirta yang mengangkat batik Indonesia ke pentas dunia. Pada tahun 1994, Iwan Tirta merancang batik untuk pejabat negara yang mengikuti Konferensi Ekonomi Asia Pasifik (APEC).
Batik Fractal tercatat dalam Museum Batik
Hal yang mengejutkan sekaligus membanggakan bagi Tim Ahli adalah saat kami menemukan bahwa Batik Fractal tercatat dalam panel Museum Batik! Dalam salah satu panel berjudul Keragaman Teknik Batik di Museum Batik Indonesia, diceritakan aneka teknik pembuatan motif batik. Selain digambar secara manual, batik juga bisa diciptakan dengan teknik jumputan, juga dengan dilukis. Di samping itu, motif juga dapat didesain dengan rumus fractal menggunakan piranti lunak komputer, yang dikenal dengan sebutan batik fractal. Teknik inilah yang diciptakan oleh Batik Fractal sejak 2007. Terdokumentasinya Batik Fractal dalam museum ini sungguh menggembirakan karena batik fractal telah dianggap menjadi bagian dari sejarah batik Indonesia.
Kunjungan ditutup dengan praktik Tim Ahli untuk membatik dengan canting yang telah disediakan di workshop pada ruang belakang museum. Setelah menyalin motif pada kain, tiap anggota tim kemudian mencoba menorehkan lilin panas mengikuti garis pada motif kain. Walaupun menjadi pendamping dalam pelatihan batik, ternyata sebagian besar anggota tim ternyata memang mengaku kesulitan membatik.
Tidak heran, karena keterampilan ini tentu saja perlu latihan dalam jangka panjang. Namun, setidaknya, memahami tingginya tingkat kesulitan membatik akan membuat Tim Ahli dan siapapun yang mencoba untuk membatik untuk lebih menghargai karya para pembatik.
