Dalam Program Pendampingan dan Pengembangan Ekosistem Batik Tradisi Sukabumi-Cianjur melalui Transformasi Digital Tahap Dua, LPS dan Batik Fractal bekerja sama membuka Rumah Batik Fractal-LPS. Rumah ini merupakan pusat pengembangan batik berbasis teknologi digital pertama di Indonesia yang merupakan perwujudan program LPS dalam pemberdayaan ekonomi, khususnya bagi UMKM batik Sukabumi-Cianjur.

Batik Fractal-LPS

Beberapa Kali Beralih Fungsi
Bangunan yang kini menjadi Rumah Batik Fractal-LPS ini berada di Kecamatan Cikole, di pusat kota Sukabumi, tidak jauh dari Gedung Juang 45 dan Lapangan Merdeka. Bangunan yang diperkirakan dibangun pada awal tahun 1900-an ini merupakan milik pasangan suami istri Hidayat Pawitan dan Jeanne Adiwinata Pawitan. Mereka adalah generasi keempat yang mewarisi rumah ini dari kerabat terdahulu.

Bangunan ini sempat beberapa kali beralih fungsi, mulai dari sebagai rumah pribadi, beberapa kali menjadi rumah makan, hingga menjadi tempat bimbingan belajar. Terakhir, sejak 2020 hingga akhir 2023, bangunan ini difungsikan sebagai tempat aktivitas komunitas musisi Sukabumi dengan nama Rumah Mesin Suara (Mesra).

Pada awal 2024, Batik Fractal, diwakili Chief of Executive Officer, Nancy Margried dan Manajer Lapangan, Rais Meiyana, menandatangani perjanjian kontrak sewa antara Batik Fractal dengan Hidayat serta Jeanne Adiwinata Pawitan sebagai pemilik bangunan. Perjanjian ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memulai proses renovasi hingga dapat berjalan lebih lancar dan menguntungkan semua pihak.

Tantangan Renovasi Rumah Bambu Plester 

Rumah ini sempat diajukan menjadi cagar budaya. Tetapi tidak berlanjut karena bangunan ini  bukan merupakan penanda zaman dan tidak bersinggungan dengan peristiwa bersejarah. Namun, bagi Norman Supriadi, arsitek renovasi Rumah Batik Fractal, status ini membuat proses renovasi menjadi lebih mudah karena tidak ada struktur yang secara khusus harus dipertahankan. 

Situasi terakhir bangunan bakal Rumah Batik Fractal-LPS sebelum direnovasi tidak cukup baik. Secara kasat mata, dinding bangunan ini penuh dengan grafiti dan semua ruangannya dalam kondisi kurang terawat. Norman Supriadi, arsitek renovasi Rumah Batik Fractal, mengungkapkan bahwa durasi renovasi yang awalnya ditargetkan, yaitu 1 Mei hingga 15 Juni, memang terbilang singkat. 

Tim renovasi tidak menduga bahwa kondisi atap bangunan yang rusak dan bocor akan menyerap lebih banyak waktu dan biaya dari perkiraan. “Rangka atap dari bilah kayu sudah banyak yang keropos sehingga harus diganti dengan baja ringan,” Norman menjelaskan. Lamanya perbaikan atap ini diperburuk dengan cuaca yang kerap hujan. 

Konstruksi bangunan Rumah Batik Fractal ini sendiri terbilang unik. Saat dibangun sejak awal, bangunan dibangun dengan konstruksi tahan gempa, yang dikenal dengan sebutan rumah bambu plester (mabuter). Bangunan ini dibuat dengan dinding yang terbuat dari rangka kayu jati yang ditutup dengan anyaman bambu, kemudian diplester. 

Konsep ini memang membuatnya tahan terhadap bencana gempa dan lebih ramah lingkungan. Namun, di sisi lain, konstruksi ini mendatangkan tantangan tersendiri. Dinding dari anyaman bambu membuat permukaan tembok menjadi bergelombang saat diplester sehingga terkesan tidak rapi. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi tim renovasi. 

Tantangan lain adalah lokasi proyek yang berada di Sukabumi membuat material, sumber daya manusia, dan metode kerja memerlukan penanganan khusus. Seiring waktu, ada pekerjaan-pekerjaan tambahan yang juga perlu diselesaikan sehingga penyelesaian renovasi tertunda dua kali menjadi akhir Juni, kemudian hingga menjadi awal Juli. Dari sisi biaya, konsekuensinya, ada penambahan 10–15% dari bujet yang semula 550 juta. 

Mulai Digunakan dalam Tahap Penyelesaian

Rumah Batik Fractal-LPS mulai semarak jelang dimulainya rangkaian Program Pendampingan dan Pengembangan Ekosistem Batik Tradisi Sukabumi-Cianjur melalui Transformasi Digital tahap kedua. Meski masih dalam tahap penyelesaian renovasi, Rumah Batik Fractal-LPS mulai digunakan untuk pelatihan jBatik pada 8–13 Juli 2024 ini. Untuk itu, berbagai persiapan telah dilakukan agar bangunan ini dapat menjadi tempat pelatihan yang nyaman. 

Sejak awal Juli, bersama dengan para pekerja, Tim Ahli Batik Fractal-LPS telah mulai sibuk memasang berbagai instalasi, branding, dan panel informasi pada tiap ruangan. Masa ini menjadi waktu yang penuh tantangan, terutama bagi Tim Administrasi Batik Fractal. Di samping disibukkan dengan persiapan kelas, tim juga harus mempersiapkan berbagai keperluan untuk Rumah Batik Fractal-LPS. Selain itu, tim pekerja pelaksana renovasi juga harus berkejaran dengan waktu karena Rumah Batik Fractal akan segera digunakan untuk berkegiatan. 

Batik Fractal LPS
Batik Fractal LPS