Meski Rumah Batik Fractal-LPS masih dalam tahap penyelesaian renovasi, Senin, 8 Juli 2024, tempat ini sudah digunakan untuk hari perdana pelatihan jBatik tahap dua. Namun, proses renovasi yang masih berlangsung membuat Rumah Batik masih perlu banyak pembenahan. Debu akibat proses renovasi membuat semua Tim Ahli mau tidak mau harus membersihkan ruang dan meja pelatihan setiap pagi sebelum pelatihan dimulai.
Pada hari pelatihan perdana, tim Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang dipimpin Lidwina Gultom, Kepala Divisi Edukasi Publik Dan Layanan Publik Lembaga Penjamin Simpanan Customer Service Representative, dijadwalkan akan berkunjung untuk meninjau kesiapan lokasi pelatihan. Oleh karenanya, semua tim yang sedang tidak mengajar bekerja bakti untuk membersihkan dan menata ruangan, tidak terkecuali direksi Batik Fractal.
Tantangan Hari Perdana
Tim Ahli jBatik dibantu tim lain sendiri pada pagi harinya juga masih disibukkan dengan penataan posisi duduk dan berbagai kebutuhan peserta. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok sesuai dengan tiga instruktur jBatik yang mendampingi. Sebelumnya, para instruktur ini telah lebih dulu mengumpulkan data perihal latar belakang pemilihan motif peserta yang mereka dampingi.
Tim Administrasi Batik Fractal sendiri juga tidak kalah kewalahan. Selain mempersiapkan berbagai kebutuhan Rumah Batik Fractal-LPS, mereka harus membagi fokus dan energi untuk mempersiapkan berbagai keperluan harian kelas.
Pada pelatihan hari pertama ini, hampir setengah peserta kelas terlambat. Kelas yang seharusnya dimulai pk 09.00 secara efektif baru dimulai sekitar pk. 10.30 karena menunggu seluruh peserta datang. Selain karena faktor jarak untuk peserta dari Cianjur, keterlambatan ini diduga karena ketiadaan pesan pengingat untuk peserta pada jelang atau H min satu hari pelatihan.
Setelah tiba pun, karena lama tidak berjumpa, para peserta saling berbincang terlebih dahulu. Suasana kelas juga menjadi lebih riuh dari seharusnya karena banyak UMKM yang mengikutsertakan lebih dari dua peserta tanpa pemberitahuan kepada Tim Administrasi. Saat makan siang, kondisi ini berimbas pada ketersediaan konsumsi.
Kebutuhan Laptop, Internet, dan Literasi Digital
Dalam kelas jBatik, laptop menjadi sarana penting yang harus dimiliki tiap UMKM. Sayangnya, tidak semua UMKM memilikinya. Tidak jarang, peserta pelatihan perlu meminjam laptop milik anggota keluarga atau kerabat untuk mengikuti pelatihan. Bahkan, ada UMKM yang datang ke kelas tanpa membawa laptop.
Akibatnya, setiap mulai pelatihan, fasilitator jBatik harus menghitung dulu jumlah kebutuhan laptop dan kebutuhan instalasi program jBatik. Instalasi ulang diperlukan karena banyak peserta yang berganti laptop tanpa pemberitahuan lebih dulu. Banyak juga laptop peserta yang kurang mumpuni untuk aplikasi jBatik. Idealnya, diperlukan laptop dengan spesifikasi tertentu, seperti yang mengoperasikan Windows operating system, Windows 7 edition atau yang lebih mutakhir, dengan RAM berkapasitas 4GB.
Pada hari pertama pelatihan dan juga pada sepekan pelatihan, Tim Ahli meminjamkan lima laptop kepada lima UMKM yang tidak membawa laptop, ataupun yang laptopnya bermasalah. Kebutuhan akan laptop ini perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan sarana utama untuk menciptakan motif secara digital.
Tantangan teknis lain adalah daya internet yang ternyata tidak mampu menunjang kebutuhan seluruh peserta. Padahal, jaringan internet tentu sangat dibutuhkan untuk instalasi aplikasi. Selain itu, jaringan listrik di tempat pelatihan sempat dua kali padam.
Dalam kelas jBatik, Tim Ahli sebenarnya sudah menggunakan mikrotik untuk akses internet peserta. Mikrotik merupakan sebuah sistem operasi untuk mengelola jaringan komputer dengan mengubah komputer menjadi router. Untuk mengaksesnya, peserta dapat login ke mikrotik. Namun, mekanisme ini tidak selalu berjalan lancar, sehingga sebagian peserta memilih menggunakan akses internet ponsel masing-masing.
Di samping kendala teknis, literasi digital peserta juga menjadi tantangan tersendiri. Ada peserta yang bahkan tidak familiar menggunakan laptop, sehingga perlu mendapat pendampingan khusus dari fasilitator. Kehadiran beberapa peserta baru yang belum mengikuti pelatihan tahun sebelumnya juga membuat mereka perlu mempelajari materi dari awal.
