Setelah merancang image board pada kelas kolektif hari sebelumnya, pada 17 Juli 2024, rangkaian Kelas Pelatihan Batik Fractal-LPS berlanjut ke kelas merancang produk suvenir dan home decor. Sementara itu, kelas fesyen berlanjut keesokan harinya dengan materi merancang koleksi pakaian.
Mendesain Produk Dimulai dari Empati
Hari ini, fasilitator mengajak teman-teman UMKM khusus produk suvenir dan home decor untuk belajar teori dan praktik merancang produk. Dalam pelatihan tahap dua ini, UMKM suvenir dan home decor ditargetkan untuk memproduksi 7–10 desain produk untuk dua koleksi. Berdasarkan evaluasi hasil produk pada pelatihan 2023, Tim Ahli menilai bahwa umumnya desain produk sudah sesuai, tapi ukuran produk ada yang kurang sesuai. Hasil ini menjadi catatan untuk pengembangan produk tahun ini.
Merancang produk dan berkreasi seperti desainer bermula dari rasa penasaran atau ingin tahu, serta rasa empati atau mencoba melihat dari sudut pandang lain. Demikian disampaikan oleh fasilitator desain produk, Nurul Lathifah dan Annisa Fauziah untuk membuka kelas. Dari pengamatan dan respons inilah, kemudian UMKM mencari inspirasi untuk merancang desain produk.
Praktik Merancang Desain Produk
Langkah selanjutnya setelah perancangan desain adalah pemilihan jenis kain. Hasil dari penggunaan kain yang halus dan licin tentu akan berbeda dengan penggunaan kain yang kaku dan tebal. Begitu juga, produk yang sama jika dibuat dari jenis kain yang berbeda akan menghasilkan kesan yang berbeda pada produk. Oleh karena itu, pengenalan akan jenis dan pemilihan kain yang tepat harus sesuai dengan fungsi dan terutama bentuk produk.
Setelah pemaparan materi, Tim Ahli langsung mengajak peserta untuk membuat sketsa produk berdasarkan image board yang telah dibuat pada hari sebelumnya. Dengan pendampingan fasilitator, tiap peserta membuat 7—10 sketsa desain produknya masing-masing.
Pada akhir kelas, Annisa dan Nurul mengundang beberapa peserta untuk mempresentasikan sketsanya di depan kelas. Diva, UMKM Hidi Project, mempresentasikan koleksinya untuk ruang tamu dan suvenir. Diva menggunakan tiga warna dominan untuk koleksinya untuk menghemat penggunaan bahan. Dengan pemilihan motif leuit dan padi, Diva memasukkan karakteristik gaya visual symbiotic dalam produknya.
Berbeda dengan Mutiara, UMKM Ecoprint Masagi, yang menerapkan gaya visual reminiscence. Ia menggunakan motif daun jati dan daun pengantin sebagai motif produknya yang antara lain berupa kap lampu tidur dan totebag. Sementara itu, Fitri, dari UMKM Batik Kakak menerapkan tema workaholic dalam koleksinya yang berisi produk-produk ruang kerja, seperti tempat tisu, sarung bantal minimalis, wall decor, storage lipat, laptop case, tempat pensil, dan pouch batik.
Merancang Koleksi Pakaian
Setelah proses merancang image board pada sehari sebelumnya, kelas fesyen dilanjutkan pada 18 Juli 2024 dengan agenda/topik Merancang Koleksi Pakaian. Kelas dibuka oleh fasilitator Bella Annesha dan Sabrina Raissa dengan pemaparan tentang fesyen dan busana. Dalam materi ini, Tim Ahli memperkenalkan kembali berbagai subkategori fesyen, seperti pakaian rumah, pakaian liburan, dan pakaian kerja.
Bella dan Sabrina kemudian memaparkan cara untuk menerjemahkan image board yang telah dibuat sebelumnya oleh peserta untuk pengembangan koleksi fesyen. Caranya adalah dengan menjadikan aneka elemen inspiratif dalam image board sebagai acuan, seperti karakter motif, warna, tekstur, hingga aksesori.
Penerjemahan image board ini berperan penting untuk tahap selanjutnya, yaitu mengembangkan koleksi fesyen. Tim Ahli menjelaskan bahwa koleksi adalah serangkaian pakaian dan aksesori yang diluncurkan secara serentak dengan tren, tema, dan arah desain yang menjadi satu kesatuan dan dapat dikenakan secara bersama-sama. Pengembangan koleksi ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: diferensiasi produk pada koleksi; menentukan aksen utama; membuat desain bervariasi dalam sebuah koleksi; serta harmonisasi elemen pakaian.
Sementara itu, pengembangan koleksi ecoprint dapat dilakukan dengan menentukan dan membatasi tanaman yang digunakan pada koleksi; eksplorasi bentuk di luar bentuk alami tanaman; motif abstrak atau organis yang “disengaja”; kombinasi dengan teknik baru; serta eksplorasi komposisi dan perkaya inspirasi di luar referensi motif dengan teknik ecoprint.
Praktik Sketsa Desain
Setelah pemaparan, kelas kemudian dilanjutkan dengan praktik menggunakan image board untuk mengembangkan koleksi. Praktik ini dilakukan dengan tahapan berikut:
- Analisis image board, perhatikan kata kunci dan daftar turunan produk yang sudah ada sebagai panduan dalam merancang produk
- Buat sketsa desain 5-10 desain produk fesyen. Desain ini terhitung satuan produk, dapat berupa atasan/ bawahan/ dress/ aksesori, dan bukan 1 look
Saat membuat sketsa desain, Tim Ahli mengingatkan peserta untuk mempertimbangkan apakah motif sudah sesuai dengan produk yang ingin dibuat. Peserta diminta untuk membuat catatan jika perlu ada penyesuaian motif. Selain itu, mereka juga perlu memperhatikan kecocokan bahan kain dan aksesori yang sesuai untuk menjadi kombinasi. Pada lembar kerja sketsa produk ini terdapat kata kunci, format sketsa, deskripsi produk, dan catatan untuk motif yang perlu diisi.
Menurut Tim Ahli, dalam pelatihan ini, umumnya peserta sudah lebih memahami dan dapat menghasilkan desain yang baik. Dalam kelas ini pula, terjadi banyak diskusi dengan peserta tentang kesulitan merancang image board. Effendi, UMKM Sukuraga, menanyakan apakah unsur yang sebelumnya tidak ada dalam sebuah image board boleh ditambahkan dalam desain produk. Sementara itu, Dani, UMKM Mulya Batik mempertanyakan solusi jika penjahit yang bekerja sama dengan UMKM tidak dapat mewujudkan desain sesuai image board menjadi produk. Pertanyaan ini direspons oleh Fonna, UMKM Lokatmala. Menurutnya, image board sangat membantu/mempermudah proses perencanaan produk. Jika sudah ada image board, berarti seharusnya produk itu memungkinkan untuk dibuat. Jika satu penjahit tidak bisa mewujudkannya, maka desainer perlu mencari alternatif partner.
