Astana Girilayu dikenal sebagai kompleks pemakaman para raja Pura Mangkunegaran dan putra-putrinya. Penjaga makam atau juru kunci pemakaman ini sekaligus merupakan pembatik Keraton Mangkunegaran yang mengembangkan  batik  di  Desa  Girilayu. Dari sinilah asal mula Batik Girilayu yang terus berkembang secara turun-temurun hingga saat ini.

Kisah ini dipaparkan oleh pembatik tulis Batik Girilayu, Maryati, sebagai pembuka materi Pelatihan Membatik dalam rangkaian Pelatihan LPS-Batik Fractal, Selasa, 17 September 2024. Sejarah panjang dan keterampilan Batik Girilayu dalam membatik membuat Batik Fractal secara khusus mengundang kelompok batik ini untuk memberikan pelatihan membatik pada UMKM Sukabumi-Cianjur. 

Maryati telah mendapatkan sertifikasi kompetensi Pembuatan Batik Tulis pada Bidang Pekerjaan Industri Batik serta dalam bidang Pembuatan Pola Batik yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) tahun 2017. Dengan didampingi tiga pembatik lain, yaitu Wahyudi, Yuliasih, dan Nanang, Maryati memberikan pelatihan selama empat hari kepada UMKM batik Sukabumi-Cianjur peserta pelatihan. 

LPS Batik Fractal

Menjiplak Pola Batik 

Sebelum mulai praktik, Maryati memaparkan tiga corak batik, yaitu corak utama, corak pinggir, dan corak isen-isen. Menurut Maryati, corak utama ini merupakan ungkapan penghayatan pembatik terhadap alam pikiran serta falsafah yang dianutnya. Ungkapan perlambangan ini  biasanya menjadi nama kain. 

Selanjutnya, corak tambahan atau disebut isen-isen merupakan pengisi latar kain pada bidang kosong di sela-sela corak utama. Umumnya, isen-isen berukuran kecil dan dibuat sesudah pembuatan corak utama. Sementara itu, corak pinggir merupakan corak pinggiran pada sisi memanjang kain. Namun, corak ini tidak hanya terletak pada pinggir kain, tetapi bisa juga pada bagian tengah kain, sebagai pembatas antara kelompok corak utama. 

Corak-corak ini kemudian diaplikasikan dalam proses pembuatan pola batik, yaitu menjiplak pola dari kertas pola ke kain mori. Tahap ini dilakukan dengan membuat pola dengan bantuan garis dan membuat pola dengan menjiplak (mal) dengan bantuan pencahayaan. Dengan demikian, gambar motif pada kertas akan terlihat menembus kain mori, sehingga dapat dijiplak dengan pensil. Pensil jenis 3B atau 4B adalah pensil yang dianjurkan untuk mendapatkan ketebalan yang sesuai. 

Dalam sesi praktik, tiap peserta membuat pola batik di meja kerja masing-masing. Pola batik ini adalah motif yang sudah mereka buat sendiri dalam kelas pelatihan jBatik. Dengan demikian, tiap UMKM memiliki motif yang berbeda. 

Luasnya kain membuat beberapa peserta memilih untuk menjiplak pola di lantai. Idealnya, diperlukan meja kaca dan pencahayaan yang cukup agar proses penjiplakan ini dapat dilakukan dengan mudah. Namun, ketiadaan meja kaca membuat beberapa peserta membuat pola pada kaca pintu ruangan Rumah Batik. 

Hari itu, beberapa peserta yang sudah selesai menjiplak pola kemudian mulai mencanting kain mereka mengikuti pola yang sudah dibuat. Agar tidak jenuh, kegiatan diiringi musik yang membuat beberapa peserta lain bahkan juga ikut berkaraoke. Suasana menjadi riuh dan santai, sambil tetap mengejar target pengerjaan. 



LPS Batik Fractal
LPS Batik Fractal

Saling Membantu Mencanting 

Pada hari kedua, Rabu, 18 September 2024, materi dibuka dengan pengenalan alat dan bahan mencanting, yaitu canting, kain mori, malam batik, wajan dan kompor, gawangan, dingklik, serta  meja pres. Maryati memaparkan beberapa jenis canting, yaitu canting isen ukuran kecil; canting klowong untuk membuat pola utama batik; canting reng-rengan untuk menggoreskan cairan lilin saat pertama kali mengikuti pola; serta canting tembok untuk mengeblok motif. 

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan proses mencanting. Bagi sebagian peserta yang tidak berprofesi sebagai produsen batik, mencanting menjadi pengalaman pertama yang membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Tidak jarang mereka kesulitan untuk mengikuti pola yang sudah mereka buat sendiri dalam kelas jBatik. Menurut instruktur jBatik, Ben Prayudha, pengalaman ini juga sekaligus memberikan pemahaman bagi para peserta untuk mengenali atau mendesain motif batik yang tepat untuk dicanting. “Tingkat kesulitan tiap motif untuk diproses berbeda-beda,” katanya.

Keberagaman tingkat keterampilan peserta dalam membatik ini membuat beberapa peserta lebih cepat menuntaskan cantingannya, tapi sebagian peserta lain jauh tertinggal. Namun, kerja sama antarpeserta justru terjalin dalam situasi ini. Para peserta yang memang merupakan produsen batik tak segan membantu mencanting kain peserta lain yang tertinggal. Diah, UMKM Pondok Batik, bahkan mengikutsertakan dua pembatiknya untuk ikut membantu peserta lain. 

LPS Batik Fractal
LPS Batik Fractal
LPS Batik Fractal
LPS Batik Fractal

Bermain dengan Pewarna Sintetis dan Merebus Pewarna Alam 

Setelah selesai dicanting, kain kemudian siap untuk diproses dengan pewarna. Warna merupakan elemen penting dalam batik karena mempengaruhi persepsi, bahkan menjadi indikator utama asal muasal sebuah kain dan corak. Contohnya, kain batik Solo dikenal didominasi warna coklat sogan dan hitam. Pewarna batik sendiri terbagi menjadi dua, yaitu pewarna alami dan pewarna buatan atau sintetis. Kedua bahan pewarna ini diterapkan masing-masing pada dua kain scarf yang motifnya telah dibuat pada kelas jBatik. 

 

Pada hari kedua pelatihan, pewarnaan pada salah satu scarf dimulai dengan pewarna sintetis terlebih dahulu. Pewarna sintetis adalah zat pewarna dari bahan kimia untuk mewarnai kain, seperti naptol dan remasol. Pada Jumat, 18 September 2024, fasilitator batik mengajak peserta  untuk menggunakan pewarna sintetis, yaitu pencelupan kain dengan pewarna naptol. 

 

Kain yang selesai dicanting dilanjutkan dengan proses medel untuk menghasilkan warna hitam. Setelah itu, kain yang sudah dicelup langsung difiksasi dengan waterglass selama satu jam. Sebelum dijemur, kain-kain ini dilorod untuk melepaskan lilin dari kain dalam air mendidih dicampur soda abu. Setelah kering, selanjutnya kain bisa diproses untuk pencantingan kedua kalinya. 

Selanjutnya, scarf batik lain diproses menggunakan pewarna alam. Proses ini dimulai dengan perebusan secang, daun ketapang, dan indigo. Perebusan pasta indigo dilakukan dengan melarutkan gula merah, kemudian diaduk hingga pasta dan gula jawa larut sempurna menjadi larutan homogen. Larutan ini harus didiamkan selama sehari, untuk kemudian disaring dan siap digunakan untuk mencelup kain.

Untuk proses ekstraksi atau perebusan kulit secang, bahan ini dilarutkan dalam 5–10 liter air mendidih hingga sejam. Setelah didiamkan satu jam kemudian, larutan disaring hingga siap pakai. Sementara itu, pembuatan bahan pewarna alami menggunakan daun ketapang dimulai dengan cara merebus daun tersebut, dengan perbandingan 3 kg/liter air, direbus hingga mendidih. Rebusan ini kemudian dianginkan, disaring, lalu bisa langsung digunakan. 

LPS Batik Fractal
LPS Batik Fractal
LPS Batik Fractal
LPS Batik Fractal

Tidak Selalu Berhasil 

Pada siang hari, kain-kain cantik yang telah selesai dibilas terbentang untuk diangin-anginkan di sisi luar selasar Rumah Batik Fractal-LPS. Dalam pelatihan kali ini, pencelupan ke pewarna alam dilakukan hingga 5-7 kali. 

Pada sebagian pembatik, pencelupan pada pewarna alam dapat disebut tidak berhasil. “Ini karena goresan canting terlalu tipis. Selain itu, malam yang digunakan belum terlalu panas tapi sudah digunakan, sehingga tidak tembus ke balik kain. Seharusnya dicanting ulang dari bawah, sehingga tembus ke bagian depan,” Maryati menjelaskan. Untuk pemula, sebaiknya canting yang dipilih adalah nomor dua dan tiga agar hasil goresan menjadi tebal. 

Hasilnya, motif batik yang telah dicanting tidak tampak. Faisal, UMKM Batik Kakak, menceritakan bahwa motif kain batiknya yang dicelup dalam pewarna indigo lebih muncul daripada yang dalam pewarna ketapang. Tetapi motif yang dicelup ke dalam bahan tunjung tidak tampak. 

Sementara itu, Kamal, UMKM Batik Warga, juga mengaku bahwa goresan cantingnya kurang tebal, sehingga motifnya hilang karena lilinnya terbilas. Namun, menurut instruktur dari Girilayu, kadar pH dalam media air di Sukabumi tergolong bagus, sehingga tidak perlu waktu terlalu lama untuk memunculkan warna pada kain. Cairan pencelup juga tahan lama dan dapat digunakan berkali-kali untuk banyak kain. 

Fasilitator jBatik, Irving Gustav, juga menjelaskan bahwa beberapa peserta menggunakan canting yang terlanjur sudah dingin, sehingga hasil pencantingan tidak tembus ke balik kain. Namun, hasil canting yang dikerjakan UMKM yang terbiasa membatik secara umum berhasil setelah dicelupkan ke pewarna alam. 

Usu, UMKM Fordan by Usu, yang hasil pencantingannya terbilang bagus, mengemukakan bahwa tahapan membatik yang dilakukan di Girilayu berbeda dengan yang biasa dilakukan pembatik Sukabumi. Jika di Girilayu pembatik biasa mulai pewarnaan dari warna gelap ke terang, di Sukabumi pewarnaan dilakukan dari warna terang ke gelap. 

Jika di Girilayu pewarnaan motif dimulai dengan menutup motif yang kecil, di Sukabumi  justru motif kecil diwarna lebih dulu. Di Girilayu, malam juga digunakan sekali saja. Selain itu, racikan dan perbandingan komposisi bahan pewarna sintetis dan air yang digunakan untuk membatik pun dapat berbeda antara satu pembatik dengan pembatik lain. Berbagai perbedaan ini sebenarnya juga akan ditemukan dalam proses batik di berbagai daerah. 

Namun, secara umum, menurut Maryati, peserta pelatihan batik Sukabumi-Cianjur sangat bersemangat dan telah menunjukkan hasil yang mengesankan. 




LPS Batik Fractal
LPS Batik Fractal