Sebagai rangkaian Hari Batik Nasional yang dirayakan setiap 2 Oktober, Museum Batik Indonesia berkolaborasi dengan Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB), yang sebelumnya dikenal sebagai Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) mengadakan kegiatan Seminar Nasional Industri Kerajinan dan Batik. 

Kegiatan ini bertema Batik Budaya Berkelanjutan yang dituangkan dalam tema khusus seminar, yaitu “Sustainabilitas Budaya melalui Inovasi”. Seminar yang diadakan pada 14 Oktober 2024 di Hotel Harper Malioboro, Yogyakarta ini menghadirkan pembicara kunci, yaitu Drs. Kadri Renggono, M.Si. (Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Yogyakarta), serta tiga pembicara panel, yaitu Agni Malagina (Lasem Heritage), Nancy Margried (Batik Fractal), dan Agus Jati Kumara (Desa Wisata Krebet). 

Kegiatan ini bertema Batik Budaya Berkelanjutan yang dituangkan dalam tema khusus seminar, yaitu “Sustainabilitas Budaya melalui Inovasi”. Seminar yang diadakan pada 14 Oktober 2024 di Hotel Harper Malioboro, Yogyakarta ini menghadirkan pembicara kunci, yaitu Drs. Kadri Renggono, M.Si. (Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Yogyakarta), serta tiga pembicara panel, yaitu Agni Malagina (Lasem Heritage), Nancy Margried (Batik Fractal), dan Agus Jati Kumara (Desa Wisata Krebet). 

Bahasan dalam Seminar Nasional Industri Kerajinan dan Batik (SNIKB) 2024 mencakup beberapa ruang lingkup, antara lain inovasi bahan baku kerajinan dan batik; pemanfaatan teknologi informasi dalam industri kerajinan dan batik; standardisasi mutu kerajinan dan batik; perekayasaan teknologi kerajinan dan batik; serta penanganan limbah industri kerajinan dan batik. 

Selain membangun jejaring antarpemangku kepentingan dalam ekosistem batik Indonesia, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan fungsi museum sebagai penghubung ekosistem batik Indonesia, serta menggali ide dan inovasi untuk meningkatkan pelestarian batik bersama-sama.

LPS Batik Fractal

Dalam pemaparannya, Direktur Batik Fractal, Nancy Margried mempresentasikan kegiatan Batik Fractal selama masa pandemi yang menggandeng para perajin di Temanggung dalam Program Batik Pring. Ini adalah program inovasi sosial yang dilaksanakan Batik Fractal dengan memanfaatkan bambu sebagai cap batik. Penggunaan bambu ini memberikan solusi ramah lingkungan dan murah bagi perajin batik lokal, terutama pada masa pandemi Covid-19.

Di samping penyelenggaraan seminar, juga diadakan diskusi kelompok terarah untuk membahas permasalahan dan pemecahan solusi bersama untuk mendukung pelestarian batik dan keberlanjutannya di masa depan. Pada diskusi ini dibahas tiga tema, yaitu: ekosistem produksi batik; edukasi batik, serta promosi batik. Diskusi ini diharapkan dapat mengumpulkan ide-ide dari berbagai pemangku kepentingan untuk membangun jejaring dan mengupayakan usaha bersama untuk mendukung pelestarian batik. 

Dalam Diskusi Kelompok Terarah Kelompok Ekosistem Produksi Batik, terungkap beberapa permasalahan riil yang dihadapi, yaitu:

  • Berhentinya regenerasi: anak-anak muda asing dengan alat membatik, juga stigma bahwa batik hanya untuk orang tua, serta terbatasnya dukungan untuk generasi muda
  • Persaingan dengan printing: berakar pada kurangnya pemahaman tentang batik itu sendiri
  • Kurangnya permodalan dan manajemen usaha
  • Kelangkaan bahan baku,  terutama bahan alami, kenaikan harga bahan baku, tidak ada semangat keberlanjutan, serta ketergantungan terhadap bahan tekstil impor
  • Kualitas pembatik tulis yang belum merata
  • Pemasaran online yang masih belum berkembang

Ke depannya, diharapkan batik akan menjadi tren, makin berkembangnya keberagaman motif batik, pajak yang lebih ringan untuk usaha batik, berkembangnya edukasi tentang batik, meningkatnya keterlibatan perajin batik dalam pariwisata, serta makin banyaknya pelatihan untuk para pembatik. 





LPS Batik Fractal