Demi mendukung terlaksananya Program Pendampingan UMKM Batik Sukabumi – Cianjur Batik Fractal – LPS Tahap Tiga dengan lebih baik, pada Rabu, 5 Februari 2025 lalu diadakan Silaturahmi dan Serah Terima Hibah Laptop di Rumah Batik Fractal-LPS, Sukabumi. Silaturahmi yang mempertemukan langsung para peserta pelatihan dengan LPS ini dihadiri oleh Jimmy Ardianto, Sekretaris Lembaga LPS beserta jajaran.
Acara ini dibuka oleh Field Manager Batik Fractal, Rais Meiyana, yang kemudian diawali dengan sambutan Direktur Batik Fractal- Nancy Margried. Dalam sambutannya, Nancy berterima kasih karena berkat program ini, kini ada batik berteknologi tinggi di Sukabumi. Dalam acara ini, akan ada lima belas laptop yang akan dihibahkan kepada Rumah Batik Fractal-LPS. Sarana ini akan menjadi milik bersama sehingga bisa bergantian digunakan, tidak perlu lagi meminjam laptop Tim Ahli, seperti yang sempat terjadi pada tahap sebelumnya.
Selanjutnya, Jimmy Ardianto, Sekretaris Lembaga LPS menyatakan bahwa hibah laptop ini krusial untuk mendukung keberlangsungan kegiatan berbasis digital di Rumah Batik. “Tidak mungkin kita membuat kegiatan dengan teknologi tanpa keberadaan laptop. Sekarang laptop-laptop ini dapat digunakan oleh peserta dan pengunjung Rumah Batik ini,” Jimmy mengungkapkan.
Penandatanganan dokumen dan serah terima hibah laptop dari LPS kepada Rumah Batik diwakili oleh perwakilan UMKM, yaitu UMKM Batik Kakak, Sukuraga, dan Angglang Daun. Sebelum diserahkan, laptop-laptop ini telah lebih dulu diperiksa dengan disaksikan perwakilan dari Batik Fractal dan UMKM.
Harapan Peserta dalam Silaturahmi dan Diskusi
Kegiatan kemudian berlanjut dengan silaturahmi dan diskusi LPS dengan UMKM dipandu Yusi Riana, Divisi Edukasi dan Layanan Publik. Para peserta satu per satu memperkenalkan diri dan mengungkapkan kesan mereka selama dua tahun pelatihan, yang akan berlanjut ke tahap tiga sebagai tahap terakhir.
Retno Sukmawati, UMKM KreasiApik, misalnya, dengan bangga menyatakan bahwa sebelumnya kendala dalam menciptakan kreasi produk batik adalah kemungkinan dituduh menjiplak motif. “Setelah mengikuti pelatihan ini, sekarang saya sudah sudah punya tiga motif kreasi saya sendiri,” ungkapnya. Ia berharap bahwa setelah pelatihan ini nantinya berakhir, UMKM Sukabumi-Cianjur ini tidak akan ditinggalkan begitu saja dan tetap diarahkan.
Sementara itu, Asep Setiawan, UMKM Batik Warga, secara khusus menyatakan bahwa pelatihan ini membantunya berkembang sebagai kaum disabilitas yang lebih berdaya. “Dulu saya sering grogi karena punya keterbatasan. Tetapi setelah mengikuti pelatihan ini saya menyadari bahwa itu bukan jadi penghalang. Kami peserta disabilitas sudah berkolaborasi dengan Dinas Sosial. Sekarang kami bahkan sudah memberikan pelatihan kepada komunitas ibu-ibu rumah tangga,” Asep menceritakan pengalamannya. Nancy menyatakan bahwa setelah mendapatkan materi pelatihan, peserta memang diharapkan dapat memberikan materi ini kepada komunitas di sekitarnya sehingga memberikan dampak berganda.
Secara khusus, Boby Yskandar, UMKM Batik Karamat, dan Rega, UMKM Namina Digital, mengungkapkan harapan mereka akan adanya pameran dan peragaan busana yang menjadi ajang unjuk karya hasil pelatihan 2024 lalu. Kegiatan ini memang belum terlaksana karena berbagai kendala. “Saya menantikan peragaan busana di Jakarta karena ini akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami. Bahwa batik Sukabumi dan Cianjur bisa dikenal secara nasional,” ucap Rega.
Menanggapi kesan-kesan ini, Jimmy dan Yusi, mewakili LPS, mengungkapkan terima kasih kepada para peserta yang sudah tekun mengikuti rangkaian pelatihan sejak 2023 hingga saat ini. Nancy menyatakan bahwa meskipun belum diadakan unjuk karya penutup program tahap dua, tapi produk-produk peserta terus bisa dipasarkan dalam berbagai kesempatan, seperti dalam pameran pada pertengahan Februari yang dikelola LPS di Jakarta. Sementara itu, menanggapi harapan-harapan para peserta, Jimmy menyatakan bahwa dalam menjalankan CSR, LPS menggunakan uang negara, sehingga penggunaannya sangat tergantung arahan dari presiden. “Kami tidak bisa menjanjikan. Saat ini yang bisa diupayakan adalah supaya evaluasi program ini baik, sehingga dapat berlanjut,” ungkapnya.
