Dalam budaya nusantara, sajian kuliner dan wastra bukan sekadar elemen keseharian, tetapi juga simbol identitas yang kaya makna. Balé Jayaniti, Sukabumi dan Batik Fractal, dua entitas yang berakar pada tradisi sambil terus bergerak dengan inovasi, berkolaborasi dalam sebuah perjalanan yang menyatukan seni kuliner dan keindahan batik. Kolaborasi ini bukan sekadar pertemuan dua dunia, melainkan manifestasi dari kekayaan budaya yang terus berkembang.

Rasa dan Wastra Ciwangi 

Sesuai namanya, kolaborasi bertajuk Rasa dan Wastra Ciwangi ini mengambil inspirasi dari legenda Sukabumi, Nyimas Cai Wangi atau Ciwangi, yang melindungi alam dan desanya dari  raksasa Yaksa Purusha. Dalam perlawanan ini, Nyimas Ciwangi berhasil mengecoh Yaksa yang ingin menikahinya dengan syarat yang tentu tidak bisa Yaksa tuntaskan, yakni menganyam daun suji. Terinspirasi dari legenda tersebut lahirlah produk sajian kuliner berbahan daun suji, seperti Puhit Hejo, Sangu Kalinger, dan Jaladra kreasi Balé Jayaniti. 

Batik Fractal Bale Jayaniti
Batik Fractal Bale Jayaniti

Sadar akan kekalahannya, Yaksa berpaling ke hutan dan sejak saat itu masyarakat menjulukinya Buta Hejo. Raksasa ini juga dianggap sebagai penanda konservasi, agar manusia senantiasa tidak berani merusak hutan karena ada Buta Hejo di sana. Inspirasi alam serta falsafah Sunda tentang keselarasan menjadi inspirasi Batik Fractal untuk terciptanya tiga motif batik berikut: 

  • Kristal Cai kreasi UMKM Nasya Gallery, yaitu titik-titik air yang membentuk pola rantai, merepresentasikan keseimbangan alam dan keberlimpahan.
  • Titiran Ngawang, kreasi UMKM Batik Geulis, yakni burung titiran yang melambangkan rezeki dan harapan.
  • Tilu Jeung Rahayu karya UMKM KreasiNan, yaitu motif edamame tiga polong yang menggambarkan filosofi keseimbangan hidup Sunda, Tri Tangtu.

Ketiga motif ini dikembangkan dengan piranti lunak jBatik dan diproses secara tradisional oleh para pembatik UMKM Sukabumi. Proses ini telah berlangsung dalam program pendampingan bersama Batik Fractal dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Karya ini menjadi bentuk nyata dari inovasi berbasis komunitas, yang juga menjadi nilai utama Batik Fractal. 

Batik Fractal Bale Jayaniti
Batik Fractal Bale Jayaniti
Batik Fractal Bale Jayaniti
Batik Fractal Bale Jayaniti
Batik Fractal Bale Jayaniti

Rasa, Gerak Tari, Dekorasi, Aksesori

Di samping aneka menu berbahan dasar daun suji yang disajikan, dalam kolaborasi ini, aneka produk batik dengan tiga motif di atas ditampilkan dalam corner display khusus di sudut restoran. Pengunjung dapat dengan mudah melihat dan membeli langsung produk-produk yang hanya tersedia di Balé Jayaniti ini. Aneka produk ini hanya akan tersedia selama tiga bulan ke depan, sejak akhir Maret hingga akhir Juni 2025. 

Selama rentang waktu ini, berbagai produk Batik Fractal hadir untuk memperindah ruang-ruang di Balé Jayaniti, seperti table runner, coaster, sofa throw, cushion cover, tempat tisu, dan gorden. Produk-produk ini juga ditawarkan bersamaan dengan aneka suvenir eksklusif, yaitu tote bag, scrunchie, pouch, sarung pena, dan notebook. 

Kolaborasi ini juga didukung kampanye video untuk memperkenalkan nilai dan filosofi di balik karya-karya ini. Kolaborasi ini melibatkan Den Aslam, seniman multidisiplin Sukabumi, serta para penari serta koreografer Sanggar Tari Gaya Gita. 

Selain produk, kolaborasi ini juga menghadirkan dua kelas aktivasi yang diselenggarakan di Jayaniti, yaitu berkain dan kelas tari. 

Berpadunya Nilai-Nilai Utama 

Beras menjadi unsur utama yang direpresentasikan dalam logo Balé Jayaniti. Bahan makanan ini merupakan sumber kehidupan masyarakat agraris Nusantara. Lebih dari sekadar bahan pangan, beras menjadi bagian dari ritual dan perayaan, melambangkan kemakmuran dan keberlanjutan. Warna cokelat kemerahan beras merah mencerminkan komitmen Balé Jayaniti akan bahan baku berkualitas, teknik memasak inovatif, dan kesadaran akan kesehatan dalam setiap hidangan yang disajikan.

Sementara itu, Batik Fractal adalah pelopor dalam penggabungan teknologi dan tradisi dengan nilai-nilai utama berikut: 

  • Inovasi teknologi: penggunaan jBatik untuk melestarikan motif tradisional dalam format digital.
  • Budaya: mengangkat inspirasi budaya dalam desain dan industri kreatif.
  • Pemberdayaan komunitas: mengembangkan batik dengan memberdayakan komunitas pembatik.
  • Desain dan ekonomi kreatif: menghasilkan karya inovatif tanpa menggeser esensi batik tradisional.

Kolaborasi ini merangkum hampir semua nilai-nilai utama kedua entitas ini sehingga menjadi sajian dan karya yang penuh makna. Kolaborasi antara Balé Jayaniti dan Batik Fractal bukan hanya tentang produk, tetapi juga tentang narasi yang menyatukan rasa dan wastra dalam satu harmoni. Ini adalah perayaan akan warisan budaya yang terus hidup, beradaptasi, dan menginspirasi. 

Batik Fractal Bale Jayaniti
Batik Fractal Bale Jayaniti
Batik Fractal Bale Jayaniti
Batik Fractal Bale Jayaniti