Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, pelatihan Batik Fractal-LPS dimulai kembali di Rumah Batik Fractal-LPS, Selasa, 20 Mei 2025. Sebagai permulaan tahap ketiga ini, Tim Ahli mengajak peserta untuk menyimak evaluasi dan rencana pembelajaran kelas. Jika pada 2024 peserta memilih subtren sendiri, pada 2025 subtren sudah ditentukan oleh tim ahli. Empat subtren yang akan menjadi rujukan dalam perancangan desain dalam pelatihan 2025, yaitu: Indie Rebellion, Retrospective, Art Simplicity, dan Artisanal Elegance.
Pemaparan dibuka oleh Tim Ahli Desainer Fashion dan Produk yang menjabarkan poin-poin penting pada tahap 3. Selain subtren yang telah ditentukan, kain batik yang dihasilkan tidak harus merupakan batik cap penuh. Penempatan posisi motif batik bisa diatur langsung pada pola produk.
Hal yang terpenting, jika sebelumnya peserta hanya membuat satu koleksi jenama masing-masing, kali ini peserta membuat satu koleksi pribadi dan satu produk untuk koleksi kolaborasi. Setiap peserta juga ditargetkan membuat satu produk koleksi pribadi dan satu produk untuk koleksi kolaborasi. Selain itu, tiap UMKM perlu memproduksi satu motif batik tulis dan satu batik cap.
Target-target Berbeda
Jika pada 2024 UMKM produk ditargetkan memproduksi dua motif batik tulis dan batik cap, pada 2025 peserta hanya ditargetkan memproduksi satu motif batik tulis dan satu batik cap. Selain itu, pada tahun ini UMKM produk harus menghasilkan aksesori fesyen di samping home decor.
Dalam koleksi produk dan home decor, tiap UMKM diwajibkan memproduksi satu koleksi asesori fashion yang terdiri dari tiga artikel, salah satunya wajib berupa scarf. Selain itu, tiap UMKM juga wajib memproduksi empat artikel home decor khusus dekorasi ruang tamu dan ruang makan.
Sementara itu, UMKM fesyen akan diminta untuk membuat total 5 hingga 10 produk batik dengan satu koleksi pribadi dan satu koleksi kolaborasi. Untuk koleksi pribadi, peserta diminta membuat satu tampilan busana yang terdiri dari dua hingga lima produk batik. Dalam look ini, produk-produk dapat dipadukan dengan kain polos, tapi batik harus tetap menjadi elemen dominan.
Selain itu, UMKM fesyen harus membuat satu tampilan kolaboratif yang terdiri dari tiga produk batik, hasil kerja sama antara UMKM fesyen dan UMKM dekorasi rumah dan suvenir. Ketentuannya adalah tiap UMKM berkontribusi minimal satu produk, serta penempatan motif batik perlu dipertimbangkan agar tampilan keseluruhan tetap seimbang secara visual. Tujuan kolaborasi ini adalah menciptakan harmoni antara produk fesyen dan dekorasi rumah yang sama-sama berbasis batik.
Kegiatan kemudian dilanjutkan oleh Tim Desainer Motif yang memaparkan target desain motif. Pada 2025, pembuatan motif ditargetkan pada motif yang tidak simetris tapi tetap seimbang dan harmonis, dengan layout yang lebih variatif. Selanjutnya, kegiatan disambung dengan pemaparan silabus/rencana kelas motif oleh Muhamad Lukman, kemudian ditutup sesi tanya jawab dengan peserta. Pada kesempatan ini, dibagikan juga berbagai perlengkapan kelas peserta.
Memperkuat Pemahaman dalam Diskusi
Dalam sesi diskusi, Nancy Margried menegaskan pentingnya keterampilan padu padan dalam koleksi kolaborasi. Selain itu, menilik referensi tren global, kini busana pria dapat digunakan perempuan dan sebaliknya. Dwi, UMKM Razita Nugeulis juga menceritakan pengalamannya bahwa penjahit juga harus memperbarui pengetahuan.
Selain meleburnya jenis busana pria dan wanita, menurutnya, ukuran busana S/M/L kini juga sudah tidak terlalu menjadi patokan. Di samping itu, tren warna global juga tetap harus dipelajari meski target utama UMKM adalah konsumen lokal.
Nancy kemudian juga memberikan pemahaman bahwa pelatihan tahap tiga ini terlaksana dengan bujet yang terbatas, sesuai kebijakan efisiensi pemerintah. Pemotongan bujet ini membuat pelatihan harus dipadatkan dan narasi internasional semula ditiadakan. Namun, narasi internasional ini kemudian tetap diangkat dengan inisiasi Batik Fractal.
