Setelah mempelajari tren dan membuat image board pada pekan sebelumnya, Senin dan Selasa, 2-3 Juni 2025, UMKM produk dan suvenir kembali belajar merancang koleksi dan membuat gambar teknis (technical drawing). Dalam kesempatan ini, Tim Desainer Produk, Annisa Fauziah dan Nurul Latifah, serta Desainer Fesyen, Sabrina Raissa dan Clara Gerda memberikan gambaran seputar tahapan merancang koleksi produk, mulai dari mencari referensi hingga membuat gambar teknis.
Gambar teknis ini bertujuan untuk memberikan informasi yang jelas dan terperinci kepada para desainer dan pekerja produksi tentang perancangan suatu objek. Peran gambar teknis sangat penting dalam proses desain dan produksi. Setelah sedikit pemaparan untuk menyegarkan ingatan, peserta langsung praktik membuat gambar teknis untuk produk mereka masing-masing dengan pendampingan Tim Ahli.
Lembar Kerja Sketsa Produk
Langkah pertama untuk membuat lembar kerja (technical package) ini adalah menganalisis kembali imageboard yang sebelumnya telah dibuat peserta. Selain imageboard, UMKM perlu menggunakan kata kunci serta daftar produk turunan sebagai panduan untuk merancang koleksi produk baru. Lembar kerja produksi ini memuat beberapa elemen, yaitu: flat draw, ukuran, material dan kain, motif/warna, serta detail konstruksi.
Setelah memahami inspirasi dan referensi tersebut, peserta kemudian membuat 5-10 sketsa desain fesyen, masing-masing desain dihitung sebagai satu produk (misalnya atasan, bawahan, gaun, atau aksesori), bukan satu kesatuan tampilan. Saat merancang sketsa desain, peserta perlu memastikan motif yang digunakan sudah sesuai dengan produk yang ingin dibuat atau perlu disesuaikan. Selain itu, juga perlu dipertimbangkan jenis bahan kain batik atau eco-print yang cocok, serta bahan tambahan serta aksesori yang tepat sebagai kombinasi.
Berikut tahap praktik untuk membuat gambar teknis:
- Peserta menyiapkan kertas kalkir di atas generic template. Bagian atasnya ditempel menggunakan selotip kertas.
- Sketsa flat drawing digambar berdasarkan rancangan desain. Generic template dapat digunakan untuk membantu memperkirakan proporsi dan ukuran. Detail pakaian kemudian dirapikan menggunakan penggaris serta acuan dari buku saku.
- Setelah flat drawing selesai, kertas kalkir ditempel pada lembar kerja.
- Keterangan lembar kerja diisi secara lengkap, meliputi nama artikel (contoh: blouse lengan panjang), detail bagian pakaian, ukuran, nama motif dan bahan, perlengkapan atau aksesori pendukung, serta catatan penting sesuai desain.
Proses ini diakhiri dengan asistensi bersama Tim Ahli yang bertanggung jawab untuk memastikan desain UMKM siap masuk ke tahap purwarupa.
Setelah kelas berakhir, diadakan serah terima materi dari Tim Desainer Produk dan Fesyen kembali ke Tim Desain Motif. Dalam serah terima ini, Tim Ahli mendiskusikan berbagai aspek dari tiap motif UKM, mulai dari aspek estetika, kesesuaian dengan tren, hingga efisiensi pembuatan batiknya nanti. Masukan dari Tim Desain Produk dan Fesyen kemudian akan diproses oleh Tim Motif untuk kelas keesokan harinya.
Revisi Desain Motif
Setelah mendapat masukan dari Tim Desain Produk dan Fesyen pada hari sebelumnya, Kamis dan Jumat, 4-5 Juni 2025, UMKM produk melakukan revisi desain motif pada piranti lunak jBatik berdasarkan masukan tersebut. Masukan ini memperhatikan beberapa aspek, mulai dari estetika, kesesuaian dengan tren, hingga efisiensi pembuatan batiknya. Revisi dilakukan dengan pendampingan dari Tim Ahli Desain Motif sehingga keluaran produk akan sesuai target.
Agar peserta tetap segar dalam menjalani pelatihan, setelah makan siang, Tim Ahli mengajak peserta untuk melakukan permainan.
Asistensi Finalisasi Desain
Setelah merevisi desain motif pada pekan lalu, pekan ini Tim Ahli mendampingi UMKM Sukabumi-Cianjur untuk melakukan asistensi finalisasi desain produk dan fesyen. Pada kesempatan ini, setelah penyampaian materi perihal aksesori produk, UMKM diajak untuk melengkapi keterangan material pada desain produk dan melengkapi catatan detail finishing/proses produksi.
Sebelum asistensi, Direktur Batik Fractal, Nancy Margried, menyampaikan bahwa desain busana kolaborasi yang dibuat peserta perlu penyesuaian kembali agar cocok untuk tampil di panggung internasional. Penyesuaian ini diperlukan untuk memenuhi selera pasar internasional dan tema keberlanjutan. Menurut Nancy, desain produk tiap UMKM, selain produk kolaborasi, memang baru cocok untuk pasar lokal. Oleh karenanya, saat asistensi, Tim Ahli perlu memberi masukan agar desain busana kolaborasi dapat sesuai dengan kebutuhan peragaan busana internasional.
Di samping itu, Nancy berpesan agar saat produksi, UMKM sebaiknya tidak menerima terlalu banyak pesanan dari sesama UMKM melebihi kapasitas yang tersedia. Selain itu, peserta perlu segera mengomunikasikan apabila terdapat produk yang gagal, seperti warna yang salah atau penyedia jasa jahit yang tidak bisa menyelesaikan pesanan. Komunikasi antara peserta dan Tim Ahli perlu dijaga agar tetap baik dan harmonis. Tim Ahli sendiri memiliki kewajiban untuk menyampaikan perkembangan setiap minggu kepada LPS.
Di samping itu, Rais Meiyana kemudian menyampaikan informasi mengenai dana produksi. Nancy menjelaskan bahwa pencairan dana untuk teknis produksi akan dilakukan secara bertahap. Dana untuk canting, cap, dan batik tulis akan dicairkan terlebih dahulu. Pada saat yang sama, peserta juga harus segera siap dengan vendor penjahit. Dana ini akan dicairkan dalam empat tahap. Selain itu, akan dilakukan kunjungan ke workshop para pembatik untuk mendokumentasikan proses produksi.
