Rumah Batik Fractal-LPS dengan bangga akan ikut menggelar unjuk karya dalam Peragaan Busana Front Row di Paris, Prancis. Dalam acara yang akan diadakan pada 6 September 2025, di Les Salons Hoche, Paris ini, Rumah Batik Fractal-LPS yang menaungi 30 UMKM batik dan ecoprint Sukabumi dan Cianjur akan memamerkan sepuluh tampilan (looks).
Dalam konferensi pers yang diadakan pada 12 Agustus 2025 lalu, Direktur Batik Fractal, Nancy Margried, memaparkan, “Kesepuluh tampilan ini merupakan karya kolaborasi dari gabungan 17 UMKM fesyen dan 13 UMKM kriya batik, yang telah menjalani pelatihan yang diadadakan oleh Batik Fractal dan LPS selama tiga tahun terkhir.” Pelatihan ini sendiri bertajuk Program Pendampingan dan Pengembangan Ekosistem Batik Tradisi Sukabumi-Cianjur melalui Transformasi Digital.
Program ini merupakan inisiasi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bekerja sama dengan perusahaan sosial Batik Fractal. Rangkaian pelatihan di Sukabumi didanai oleh Program Sosial Kemasyarakatan LPS, “LPS Peduli, Bakti Bagi Negeri”, sedangkan peragaan busana di Paris ini diprakarsai oleh Batik Fractal sebagai perusahaan sosial.
Gelaran Fesyen Lokal di Mancanegara
Di panggung Front Row nanti, koleksi Rumah Batik Fractal–LPS akan tampil bersama enam desainer lain, yaitu Deden Siswanto, AM by Anggiasari Mawardi, FFF by Ferry Febby Fabry, Putri Anjani by Indina, Roemah Kebaya Vielga, dan NY by Novita Yunus. Meski telah banyak pagelaran fesyen yang dapat diikuti desainer Indonesia di mancanagera, tapi pembina Indonesian Fashion Chamber (IFC), Ali Charisma, yang juga adalah penyelenggara Front Row, menegaskan pentingnya tetap mengadakan peragaan busana sendiri di luar negeri.
“Busana yang dikurasi oleh kurator luar seringkali harus di-westernisasi. Wastra Indonesia sering dianggap terlalu berat. Ada modest fashion yang akhirnya harus tampil tanpa hijab. Itu bukan lagi jadi true fashion of Indonesia,” ucap Ali. Menurut Ali yang sudah menggelar lima kali Front Row, memperlihatkan ciri khas asli fesyen Indonesia juga penting untuk melindungi pasar dalam negeri.
Selain peragaan busana, busana-busana yang dibawa ke Front Row juga akan dipotret di ruang-ruang publik di Paris untuk memperluas paparan kepada masyarakat umum. Aneka busana yang dipamerkan ini, masih menurut Ali, sudah dikurasi sesuai tren. “Yang penting simple, clean, kualitas bagus. Tidak terlalu banyak siluet. Karena arahnya ke keberlanjutan. Awet desain dan produk,” ungkapnya. Selain oversize, busana yang bersifat androgynous, yaitu produk yang dapat dikenakan baik perempuan maupun pria kini menjadi tren.
Harapan dan Strategi
Jauh hari, penyelenggara akan menyebar katalog daring semua koleksi kepada para pembeli potensial. Selanjutnya, seperti pada tahun sebelumnya, tahun ini sebelum peragaan busana berlangsung, peserta akan dipertemukan dengan para pembeli potensial untuk mempresentasikan karya mereka. Tahun ini, Ali menargetkan sekitar 250 pengunjung. Namun, meski sudah menginjak tahun keenam, Ali mengakui bahwa kekurangan dari gelaran Front Row adalah pada tindak lanjut setelah acara. Silih bergantinya peserta yang ikut juga mempengaruhi nilai konsistensi di mata calon pembeli.
Meski demikian, Ali tetap berharap, gelaran ini dapat membuat peserta Front Row naik kelas, misalnya, dari UMKM menjadi pengusaha kelas menengah. Menurutnya, ini tidak mudah dan sulit dilakukan sendirian. Untuk mencapainya, UMKM perlu berstrategi, antara lain dengan berkolaborasi dengan perusahaan yang sudah mapan.
Motif Batik Kreasi Digital
Motif-motif batik yang ditampilkan dalam karya kolaborasi Rumah Batik Fractal-LPS umumnya berakar dari budaya dan bentang alam tatar Parahyangan: gunung, rimba, laut, pantai, sungai, dan seni budaya. Oleh karenanya, semua motif dalam koleksi ini dirangkai dalam satu tema besar, Whispering Forest. Frasa ini menggambarkan suasana hutan yang tidak diam dan pasif, melainkan meniupkan semangat dan ruh, seakan-akan sedang berbisik.
Motif-motif batik karya UMKM Sukabumi-Cianjur ini diciptakan dalam pelatihan kreasi motif dengan piranti lunak jBatik besutan Batik Fractal. jBatik diciptakan Batik Fractal untuk membantu para perajin dalam mendesain motif batik dan ecoprint dengan menggunakan metode fractal. Fractal sendiri adalah ilmu matematika yang berhubungan dengan perulangan. Walaupun dikreasi dengan metode digital, proses pembatikan kain tetap menggunakan metode tradisional, yaitu canting dan cap, juga metode steam untuk ecoprint.
“Ini adalah pemenuhan janji kami untuk membawa karya para UMKM ini ke tingkat internasional sebagai bagian dari program pelatihan UMKM batik di Sukabumi dan Cianjur,” ungkap Nancy Margried. Pelatihan ini sendiri telah berjalan sejak 2023 dengan ditutup unjuk karya berupa peragaan busana dan pameran bertajuk “Mapag Sri” di Sukabumi, dilanjutkan pelatihan 2024 yang ditutup dengan peragaan busana dan pameran Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2025 di Jakarta. Pada tahun ini, sebagai penutup program, karya UMKM akan tampil di tingkat internasional di Paris.
Karya Kolaborasi 30 UMKM
Pada tahun ini, tiap UMKM berkolaborasi dengan UMKM lain untuk menghasilkan satu koleksi kolektif yang padu. Jika UMKM fesyen menghadirkan padu padan busana, UMKM kriya batik menciptakan kreasi aksesori, seperti scarf dan bando. Dengan demikian, warna, tema, dan jenis busana serta produk pun telah dirancang sejak awal sehingga dapat saling melengkapi. Dalam pelaksanaannya, UMKM dikelompokkan sejak awal sesuai kemampuan dan ciri khas masing-masing.
Pengelompokkan dan perancangan desain tampilan juga berangkat dari tren global Strive 2025/2026 yang dipadukan dengan pertimbangan potensi dan karakter peserta. Empat tren dan subtren yang menjadi rujukan dalam perancangan desain karya kolaborasi Rumah Batik Fractal-LPS adalah: Indie Rebellion, Quiet Artistry, Neo Nostalgic, dan Artisanal Elegance. Dengan memahami tren ini, UMKM diarahkan untuk menciptakan karya yang relevan dengan kebutuhan pasar, sehingga lebih kompetitif di industri fesyen.
Rumah Batik Fractal-LPS sendiri merupakan pusat pengembangan batik berbasis teknologi digital pertama di Indonesia yang merupakan perwujudan program LPS dalam pemberdayaan ekonomi, khususnya bagi UMKM batik Sukabumi-Cianjur. Selain sebagai tempat pelatihan, Rumah Batik ini menjadi etalase unjuk karya bagi UMKM Sukabumi Cianjur, juga diharapkan menjadi pusat berkegiatan bagi pegiat industri kreatif.
