Direksi PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) mengunjungi Rumah Batik Fractal-LPS, Sukabumi, Senin, 26 Januari 2026. Kunjungan ini menjadi ruang dialog strategis untuk melihat langsung praktik pengembangan UMKM batik berbasis teknologi yang dikembangkan Batik Fractal dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) selama tiga tahun terakhir. Kesempatan ini juga sekaligus untuk menjajaki peluang dukungan penguatan dampak ekonomi dan keberlanjutan program pendampingan yang telah berakhir pada akhir tahun 2025.

Jajaran PT SMI dipimpin oleh Bapak Pradana Murti, Direktur Manajemen Risiko, bersama Bapak Abdul Hakim, Direktur Utama PT Trans Jabar Tol, Ibu Ramona Harimurti, Kepala Divisi Sekretariat Perusahaan PT SMI, serta Bapak Aldy Sigit, Kepala Divisi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan PT SMI, dan tim terkait. Mereka disambut oleh tiga pendiri dan direktur Batik Fractal, Nancy Margried, Muhamad Lukman, dan Yun Hariadi. 

Batik Fractal PT SMI

Dari Galeri ke Ruang Produksi: Memahami Ekosistem Batik Sukabumi-Cianjur

Kunjungan diawali dengan tur keliling galeri, dipandu Direktur Desain Batik Fractal, Bapak Muhamad Lukman. Dalam sesi ini, diskusi mengalir seputar model produksi batik di Sukabumi yang sebagian besar prosesnya masih dilakukan di rumah masing-masing perajin. Menanggapi pertanyaan Pradana, Direktur Eksekutif Batik Fractal, Nancy Margried, menjawab bahwa dari total 30 UMKM peserta program, belum ada yang menembus pasar ekspor. 

“Namun, pascapelatihan, beberapa peserta mulai menunjukkan performa menonjol hingga direkrut sebagai UMKM binaan institusi lain. Program pelatihan sendiri dirancang untuk menumbuhkan kapasitas peserta dari nol, bahkan dari mereka ada yang belum mengenal batik, hingga siap masuk tahap komersialisasi,” ungkap Nancy. 

Galeri Batik Fractal-LPS sendiri selama ini diposisikan bukan sekadar ruang pamer, tetapi sebagai sarana pemasaran aktif. Melalui sistem konsinyasi, Nancy mengungkapkan bahwa galeri mencatat penjualan rata-rata Rp5–10 juta per bulan; angka yang dinilai cukup baik untuk wilayah yang bukan sentra batik utama. Selain itu kehadiran galeri juga membuka ruang dialog langsung antara perajin dan pasar.

Dalam pemaparan program, Muhamad Lukman menjelaskan bahwa pelatihan dimulai dari pengembangan motif berbasis ide peserta, yang kemudian dimodifikasi menggunakan perangkat lunak jBatik. Tahapan ini dilanjutkan dengan pelatihan pengembangan produk busana, interior, dan aksesori, hingga aspek pemasaran.

Kunjungan kemudian  beralih ke ruang kelas dan jBatik corner yang menjadi bagian penting dari ekosistem ini. Meski teknologi digital digunakan sebagai alat desain dan pengembangan, proses produksi tetap dijalankan secara tradisional, menjaga nilai budaya batik itu sendiri.

Batik Fractal PT SMI
Batik Fractal PT SMI
Batik Fractal PT SMI

Sukabumi Batik Hub 2026: Teknologi, Budaya, dan Pasar

Dalam sesi presentasi, Nancy Margried, memaparkan arah pengembangan Program Sukabumi Batik Hub 2026. Program ini dirancang sebagai inisiatif corporate social responsibility (CSR) berbasis dampak, berkelanjutan, dan siap direplikasi, dengan Sukabumi diposisikan sebagai anchor hub pengembangan UMKM batik berbasis teknologi.

Program ini mengusung pendekatan berjenjang: Train – Accelerate – Commercialize – Guided Capital – Graduate (bankable). Tiga fokus utama ditetapkan untuk pelaksanaan selama 10–11 bulan, yakni penguatan adopsi teknologi, aktivasi galeri sebagai ruang edukasi dan komersialisasi, serta akselerasi pasar di tingkat lokal hingga nasional.

Dari sisi pembiayaan, Batik Fractal memperkenalkan skema guided capital berbasis kinerja dan milestone. Skema ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara UMKM mikro dan akses pembiayaan formal, dengan Batik Fractal berperan sebagai pengelola risiko dan orkestrator dampak; bukan sebagai lembaga pemberi pinjaman.

Menuju UMKM yang Bankable

Diskusi berkembang ke isu kesiapan UMKM untuk menjadi bankable. Dijelaskan bahwa perbankan umumnya menilai kelayakan usaha dari aset, laporan keuangan yang tertata, serta rekam jejak penjualan. Dalam konteks ini, Batik Fractal menekankan pentingnya komersialisasi yang konsisten agar UMKM memiliki basis data penjualan yang kuat. 

Pesanan dalam jumlah besar, termasuk dari pemerintah daerah, sering kali membutuhkan modal produksi di awal. Di sinilah peran skema pembiayaan terstruktur menjadi krusial, agar UMKM dapat memenuhi pesanan tanpa terjebak risiko keuangan. Selain itu, aspek legalitas juga menjadi perhatian. Para peserta program didampingi untuk mengurus NIB, pendaftaran merek, serta membangun aset digital – mulai dari logo hingga portofolio – sebagai fondasi menuju usaha yang tertib dan siap tumbuh. “Legalitas seperti OSS dan merek kami dorong agar diurus. Saat pelatihan, mereka juga sudah dibuatkan logo dan aset digital,” jelas Nancy menambahkan.

Batik Fractal PT SMI
Batik Fractal PT SMI
Batik Fractal PT SMI

Kolaborasi dan Keberlanjutan

Direksi PT SMI menilai program ini relevan dengan mandat Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). “Program ini sebenarnya masuk kategori yang bisa kami jalankan, meski dari sisi nominal memang lebih besar dari program biasa,” disampaikan oleh Ramona Harimurti. Model yang ditawarkan dinilai memiliki kejelasan dampak dan arah keberlanjutan. Direktur Riset Batik Fractal, Yun Hariadi, juga meyakinkan bahwa Batik Fractal akan terus menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengupayakan keberlanjutan program. 

Menutup diskusi, Bapak Pradana menekankan pentingnya data dan fokus. “Targetnya realistis. Fokus ke 30 UMKM, tapi dengan kreativitas dan produksi berbasis teknologi yang jelas,” ujarnya. Pada tahun ini, target akhirnya adalah UMKM yang mampu berdiri mandiri, dengan model pelatihan yang dapat direplikasi ke daerah lain.

Kunjungan ini ditutup dengan kesepakatan untuk menindaklanjuti diskusi pada level teknis, termasuk kebutuhan data penjualan UMKM dan peluang kolaborasi lintas sektor. Dengan dukungan infrastruktur, teknologi, dan pasar, Sukabumi diharapkan dapat menguatkan posisinya sebagai sentra batik unggulan berbasis inovasi.