Mengawali tahun 2026, PT Batik Fractal Indonesia bersama PT Digital Tenun Nusantara menggelar Town Hall Meeting pada Jumat, 30 Januari 2026 di Hotel 101, Bandung. Pertemuan ini menjadi ruang bersama untuk menengok kembali perjalanan sepanjang 2025, sekaligus menyamakan arah dan prioritas ke depan di tengah dinamika kerja lintas tim yang semakin kompleks.

Kegiatan dibuka oleh Direktur Eksekutif Batik Fractal, Nancy Margried, yang mengajak seluruh tim kembali ke titik awal berdirinya Batik Fractal dan DiTenun. “Batik Fractal membangun teknologi sebagai infrastruktur budaya. DiTenun membuka akses, meningkatkan kapasitas, dan memperluas pasar perajin. Keduanya menghubungkan budaya, teknologi, dan peluang ekonomi,” ujar Nancy. Refleksi ini menjadi benang merah diskusi: bahwa teknologi, desain, media, hingga pendampingan perajin bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk menciptakan dampak yang berkelanjutan.

Batik Fractal

Refleksi 2025: Belajar, Bereksperimen, dan Bertumbuh

Sepanjang 2025, berbagai eksperimen dan pembelajaran menjadi bagian tak terpisahkan dari kerja Batik Fractal dan DiTenun. Dari sisi teknologi, Direktur Muhamad Lukman menegaskan bahwa eksperimen  dan pengembangan jBatik Alchemy, serta pembelajaran AI yang telah dikerjakan sepanjang 2025 memang dirancang sebagai proses jangka panjang. 

Tim teknologi dan desain juga menyampaikan bahwa peluncuran jBatik Alchemy masih menunggu kesiapan hasil mesin AI, terutama pada aspek warna yang belum sepenuhnya sesuai dengan standar artistik Batik Fractal. Sejumlah proyek lain, seperti eksperimen cap batik berbasis 3D printing berlapis tembaga dan prototipe canting portabel layak diapresiasi sebagai langkah inovatif, meski sebagian di antaranya diputuskan untuk dijeda sementara demi fokus pada prioritas utama.

Di sisi platform, pengembangan jBatik Go untuk pemesanan dan pembayaran, serta pembaruan pada jBatik 4 dan rencana integrasi AI pada jBatik 5, menjadi fondasi penting untuk kerja ke depan.

Mode, Media, dan Cerita yang Lebih Terhubung

Dari perspektif desain dan fesyen, desainer Batik Fractal dan DiTenun, Sabrina Raissa membagikan angan-angannya tentang cara Batik Fractal menyampaikan karya ke publik. “Saya membayangkan kita membuat fashion show untuk peluncuran koleksi baru Batik Fractal,” ungkapnya, seraya menekankan pentingnya pengalaman visual yang utuh. Kolaborasi lintas-unit turut mengemuka, termasuk rencana kerja sama produk antara Batik Fractal dan DiTenun, dengan gagasan satu motif yang dapat diterjemahkan baik ke dalam kain batik maupun tenun.

Selain itu, evaluasi keikutsertaan peserta pelatihan Batik Fractal-LPS dalam Osaka Expo 2025 lalu juga memunculkan catatan penting dari Nancy. Ke depannya, kehadiran Batik Fractal di pameran internasional direncanakan akan lebih menonjolkan jBatik sebagai inti narasi. 

Batik Fractal
Batik Fractal
Batik Fractal

Media Sosial: Bercerita, Bukan Sekadar Menjual

Dalam presentasi selanjutnya, pengembang bisnis DiTenun, Ayu Sekarmayang menyoroti karakter media sosial DiTenun, “Media sosial DiTenun berbeda karakter dengan akun jenama bisnis biasa. Pengikut DiTenun kebanyakan adalah mereka yang concern pada pendampingan sosial,” jelasnya. Pandangan ini diperkuat oleh refleksi internal bahwa konten berbasis proses, manusia, dan perjalanan justru memiliki performa lebih baik dibandingkan hard selling. Manajer media Batik Fractal, Lucia Priandarini, menambahkan bahwa kekuatan ini seharusnya tampil lebih konsisten. “Pemberdayaan perajin dan basis riset justru adalah kekuatan Batik Fractal dan DiTenun. Ini harus nampak pada konten media sosial keduanya,” ujarnya.

Menguatkan Media, Sosial Media, dan Tata Kelola Internal

Diskusi berlanjut pada presentasi Lucia Priandarini dan Anang Rahmansyah, mewakili Tim Media yang menyoroti pentingnya penyempurnaan kualitas konten audiovisual Batik Fractal ke depan. Salah satu catatan utama adalah perlunya pembaruan pilihan musik dalam output video agar lebih selaras dengan karakter cerita yang ingin disampaikan.

Selain itu, aktivasi Rumah Batik ke depan diharapkan dapat melibatkan UMKM secara lebih aktif, tidak hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem yang berkontribusi langsung. Tim Media juga menegaskan urgensi penyelesaian dokumenter peserta dalam format series yang selama ini tertunda. Dokumenter ini direncanakan segera dirampungkan dan dipublikasikan, dengan dukungan sumber daya tambahan. Selain itu, memasuki kuartal pertama 2026, tim menargetkan pemanfaatan laptop hibah untuk lokakarya jBatik bagi publik sebagai pembuka rangkaian kegiatan di Rumah Batik. 

Sementara itu, dari sisi media sosial, Anang memaparkan bahwa performa konten Batik Fractal sepanjang 2025 menunjukkan capaian reach dan views yang cukup tinggi, terutama pada format reels. Namun demikian, pertumbuhan jumlah pengikut masih cenderung stagnan. Temuan ini memperkuat kesimpulan bahwa konten berbasis proses, manusia, dan perjalanan memiliki daya tarik yang jauh lebih kuat dibandingkan konten hard selling.

Memasuki 2026, Instagram Batik Fractal akan difokuskan pada alur konten yang lebih terstruktur—mulai dari tahap discovery, engagement, hingga conversion. Pendekatan storytelling akan menjadi benang merah utama, dengan konsistensi tone dan visual sebagai fondasi yang terus dijaga. Secara taktis, diskon produk juga direncanakan pada momen-momen tertentu seperti Valentine dan Ramadan sebagai bagian dari strategi konversi.

Sementara itu, Tim Admin yang diwakili Manajer Lapangan Rais Meiyana menyampaikan gambaran kinerja penjualan dan tata kelola internal. Sepanjang periode evaluasi, kontribusi penjualan terbesar berasal dari skema B2B Batik Fractal yang mencapai 62% dari total pendapatan CSR. Dari sisi pendanaan, Batik Fractal juga menjadi penerima dana CSR terbesar dengan porsi mencapai 92%.

Ke depan, akan dilakukan penyesuaian sistem pencatatan keuangan untuk memisahkan kebutuhan operasional umum dan kebutuhan khusus di Sukabumi. Tim juga mencatat bahwa aktivitas live update di media sosial masih perlu ditingkatkan agar kerja-kerja di lapangan dapat lebih terwakili secara real time.

Batik Fractal

Arah Strategis 2026: Lebih Fokus, Lebih Matang

Menutup rangkaian diskusi, Nancy Margried kembali menegaskan pentingnya menyamakan tujuan dan cara kerja ke depan. “Kerja keras di tahun 2025 memberikan dampak yang baik untuk mengawali 2026. Sekarang saatnya kita memperkuat fokus, memperjelas jalur komersial, dan mematangkan organisasi,” tuturnya.

Empat pilar strategi 2026 pun ditegaskan: teknologi sebagai mesin utama, penguatan program pendampingan, jalur pasar yang jelas, serta kematangan organisasi dan kepemimpinan. Disiplin pada perencanaan, pengurangan keputusan mendadak, dan penguatan middle management dipandang sebagai langkah penting agar seluruh visi tersebut dapat berjalan beriringan.

Town Hall Meeting ini menjadi lebih dari sekadar forum laporan. Ia menjadi ruang untuk saling mendengar, menyelaraskan niat, dan menguatkan kembali alasan mengapa Batik Fractal dan DiTenun ada. Dengan fondasi kerja 2025 dan fokus yang lebih tajam di 2026, langkah ke depan diharapkan semakin mantap—menjembatani budaya, teknologi, dan peluang ekonomi bagi para perajin.