Program Pendampingan dan Pengembangan Ekosistem Batik Tradisi Sukabumi-Cianjur melalui Transformasi Digital memasuki babak baru. Jika sebelumnya program ini diampu Batik Fractal bersama LPS, tahun ini pelatihan ini akan diteruskan bersama PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Pelatihan ini akan diadakan selama tiga tahun, dengan tahun pertama fokus pada 10 UMKM terlebih dahulu. Untuk mempersiapkan pelatihan ini, Batik Fractal mengadakan Koordinasi Tim Ahli pada Selasa, 14 April 2026 di Hotel The 101  Dago, Kota Bandung. 

Secara garis besar, seperti pelatihan pada umumnya, pelatihan ini terbagi ke dalam tiga tahap: tahap 1 – formasi/ideation, tahap 2 – produksi/creation, serta tahap 3: bisnis/bankable. “Saat ini kita ada dalam tahap tiga. Dan karena pesertanya sama, tidak mungkin kita membuat program yang sama. Tetapi bagaimana produk yang mereka ciptakan harus dapat terjual,” ungkap CEO Batik Fractal, Nancy Margried. 

Batik Fractal-SMI

Dalam pengembangan UMKM batik, salah satu kunci keberhasilan bukan hanya terletak pada kualitas produk, tetapi juga pada bagaimana strategi dibangun secara kontekstual. Koordinasi tim ahli ini menjadi fondasi penting dalam memastikan bahwa setiap langkah pengembangan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling terhubung dan saling menguatkan. Koordinasi ini menjadi ruang bertemunya berbagai perspektif: bisnis, desain, produksi, hingga pemasaran. Dalam proses ini, tim tidak hanya memberikan arahan, tetapi juga menyelaraskan keputusan agar setiap UMKM bergerak dalam koridor strategi yang sama.

Mengedepankan Tren Lokal

Salah satu pendekatan utama yang diambil dalam program ini adalah keputusan strategis untuk menggunakan tren lokal sebagai dasar penjualan, bukan mengikuti tren global seperti pada tahun-tahun sebelumnya yang digunakan dalam konteks peragaan busana. Pendekatan ini menempatkan UMKM tidak hanya sebagai produsen, tetapi sebagai pelaku budaya yang memahami kebutuhan dan selera pasar di sekitarnya.

Tren lokal memiliki kedekatan emosional dengan konsumen. Ia lahir dari keseharian, kebiasaan, serta preferensi masyarakat setempat. Dalam konteks batik, ini berarti motif, warna, hingga produk turunan yang dihasilkan memiliki peluang lebih besar untuk diterima pasar karena relevan dan familiar.

Sebaliknya, tren global lebih cocok untuk panggung peragaan busana, menonjolkan eksperimentasi dan estetika, tapi tidak selalu selaras dengan kebutuhan pasar sehari-hari. Oleh karena itu, tim ahli sepakat untuk mengarahkan UMKM pada strategi yang lebih membumi, namun tetap kompetitif.

Batik Fractal-SMI
Batik Fractal-SMI
Batik Fractal-SMI

Dua Kelompok Utama 

Selanjutnya, untuk memastikan pendekatan yang tepat sasaran, UMKM dibagi ke dalam dua kelompok utama, yaitu Kelompok A dan B berdasarkan kesiapan dan kapasitasnya. Enam UMKM dalam kategori A memiliki kapasitas yang lebih siap untuk menjalankan strategi secara lebih kompleks, baik dari sisi produksi maupun pengembangan produk. Kelompok ini didorong untuk lebih eksploratif dalam menerjemahkan tren lokal ke dalam koleksi yang lebih beragam, dengan tetap menjaga konsistensi kualitas dan identitas brand.

Sementara itu, Tier B terdiri dari UMKM yang masih dalam tahap penguatan fondasi bisnis dan produksi: Pendekatan pada kelompok ini lebih difokuskan pada penyederhanaan proses, pemilihan produk yang tepat, serta penguatan konsistensi agar mampu mengikuti ritme produksi dan penjualan secara berkelanjutan.

Sesuai fokus utama pelatihan tahap ini, yaitu membuat UMKM naik kelas menjadi layak mendapat investasi, sebagian besar materi pelatihan akan berupa pelatihan manajemen bisnis dan keuangan. 

Batik Fractal-SMI