Bandung

By Batik_Fractal On 04 Apr 2020

Presentasi Batik Fractal kepada Presiden Jokowi
Pemberdayaan Batik Fractal di Bandung

Nancy still remembers that on her first visit to Dago Podjok Village, she found few groups of mothers relaxing on one of the narrow terraces. “Just exchanging stories, after all there is no work anyway,” said one of friendly-faced mothers.

Kampung Dago Podjok is one of the most densely populated suburban areas in Bandung. Its condition is often seen as a problem, but Batik Fractal chose to see it as a workable potential instead. In collaboration with the Komunitas Taboo, we began to establish relationships with women in four villages in Dago Podjok and provide holistic assistance. For weeks we routinely come, train them to make batik motifs, introduce jBatik, until finally producing craft products such as pouches, clothes, batik cloth, puzzles, and others.

We realized what we were doing was important to be continued when one  mother approached and whispered that she was very happy to finally be able to operate a laptop. The distance between people living in the lower socio-economic class and access to technology and knowledge is very large, and this is what we are trying to eliminate. We want to share access and abilities, so that one day they are empowered.

In the same year,  we created Batik Fractal Cooperation which houses the products of Kampung Dago Podjok, and provided micro-finance loans to 25 members there. Through various other initiatives, Kampung Dago Podjok came to be known as Dago Podjok Creative Village in Bandung.

 Feeling important to meet with artisans in person, we then worked with BCCF and the Linggawastu Garbage Bank to create a similar event in the Linggawastu batik artisans community in 2014. Not only making motifs for fabrics, we developed batik motifs to decorate the village, even making packages tourism with batik elements in it.

 For more urban communities, Batik Fractal had a chance to make jBatik training in the Spatial and Bandung Creative Hub in 2016-2017. In these places, we met with other batik actors. Most young people are curious and passionate for batik. We learned again about the character of Bandung batik. Investigate the motifs of Muncang Jayanti Flower, Bride Ragen, and Many Ngentrang, investigating the history of Padjajaran royal batik. And finally creating a contemporary motif and applying it to cloth and leather.

Gathering with batik crafters community in their home made us get a lot of grassroots stories about the struggle to preserve batik. This greatly helped Fractal Batik to understand, and ultimately to work out an impactful solutions.

Nancy masih ingat pada kunjungan pertamanya ke Kampung Dago Podjok, ia menjumpai beberapa gerombol ibu-ibu sedang santai di salah satu teras sempit. “Lagi cerita-cerita aja, habis nggak ada kerjaan sih,” ujar seorang ibu berwajah ramah.

Kampung Dago Podjok adalah salah satu area suburban padat penduduk di Bandung. Kondisinya sering dilihat sebagai sebuah masalah, tapi Batik Fractal memilih melihatnya sebagai potensi yang bisa diolah. Bekerja sama dengan Komunitas Taboo, kami mulai menjalin relasi dengan ibu-ibu di empat kampung di Dago Podjok dan memberikan pendampingan holistik. Selama berminggu-minggu kami rutin datang, melatih mereka membuat motif batik, mengenalkan jBatik, hingga akhirnya membuat produk kerajinan bersama seperti pouch, baju, kain batik, puzzle, dan lainnya.

Kami sadar apa yang kami lakukan penting untuk dilanjutkan ketika seorang ibu mendekat dan dengan berbisik mengaku senang sekali akhirnya bisa mengoperasikan laptop. Jarak orang-orang yang hidup di kelas sosial ekonomi bawah ini terhadap akses teknologi dan pengetahuan sangat besar, dan ini yang berusaha kami hilangkan. Kami ingin berbagi akses dan kemampuan, agar suatu hari mereka berdaya.

Di tahun yang sama, menyambut antusias ibu-ibu peserta pelatihan, kami menciptakan Batik Fractal Cooperation yang menaungi produk ibu-ibu Kampung Dago Podjok, serta memberi pinjaman dana mikro bagi 25 anggota di sana. Lewat berbagai inisiatif lainnya, Kampung Dago Podjok kemudian dikenal sebagai Dago Podjok Creative Village di Bandung.

Merasa penting untuk bertemu dengan perajin secara langsung, kami kemudian bekerja sama dengan BCCF dan Bank Sampah Linggawastu untuk membuat acara serupa di komunitas perajin batik Linggawastu tahun 2014. Tak hanya membuat motif untuk kain, kami mengembangkan motif batik fractal untuk menghias kampung, bahkan membuat paket pariwisata dengan unsur batik di dalamnya.

Untuk komunitas yang lebih urban, Batik Fractal sempat membuat pelatihan jBatik di Spasial dan Bandung Creative Hub di 2016-2017.Di tempat-tempat ini, kami bertemu dengan pelaku batik lain. Kebanyakan anak muda yang penasaran dan punya gairah besar untuk batik. Kami belajar kembali soal karakter batik Bandung. Mengulik motif Kembang Muncang Jayanti, Ragen Penganten, dan Banyak Ngentrang, menelisik sejarah batik kerajaan Padjajaran. Serta akhirnya menciptakan motif kontemporer dan mengaplikasikannya ke atas kain dan kulit.

Berkumpul dengan komunitas perajin batik di rumah mereka membuat kami mendapat banyak cerita akar rumput tentang perjuangan melestarikan batik. Ini sangat membantu Batik Fractal untuk memahami, dan akhirnya mengusahakan solusi yang berdampak.

  1. Dago Podjok Creative Village (2012)
  2. Pelatihan Membatik komunitas Linggawastu (BCCF x Bank Sampah Linggawastu x Batik Fractal) 2014
  3. Sasab.bdg (BCCF x Dinas Pariwisata dan kebudayaan)
  4. Pelatihan jBatik di Spasial, Bandung (2016)
  5. Bandung Creative Hub workshop jbatik (2017)
Share this articles :

Impact