Rembang

By Batik_Fractal On 04 Apr 2020

Workshop jBatik bersama Pengrajin Jawa Tengah
Workshop jBatik bersama Pengrajin Jawa Tengah

RA Kartini, the resurrection figure of indigenous women during the colonial era was also arguably the first batik ambassador for Indonesia. Not only introducing batik to the Netherlands, Kartini also made new batik fabrics that combined the characteristics of coastal batik and batik palace/mataraman. This heritage is still preserved by batik artisans in Rembang until now.

To appreciate this, on the anniversary of Kartini Day 21 April 2018, Batik Fractal and Bank Indonesia came to the Kartini Museum in Rembang and conducted jBatik software training. Participants are women who inherit Kartini batik in Rembang and Lasem. Proper knowledge of history and their dedication to preserve tradition deserves thumbs up. In a short time, participants were able to operate laptops and make new motives through jBatik software. This motif will not only be applied to fabrics, but also weaving and embroidery crafts. It was great watching the craftsmen mothers discover a variety of products and skills that would later be used in their daily lives.

They claimed, through this homemade contemporary version of Batik Kartini, they became more proud of their historical and cultural heritage. We feel that Kartini’s attention on the issue of empowering women and batik should continue with Batik Fractal, through events like this for example.

RA Kartini, tokoh kebangkitan perempuan pribumi semasa kolonial ternyata juga bisa dibilang sebagai duta batik pertama Indonesia. Tak hanya mengenalkan batik pada Belanda, Kartini juga membuat kain batik baru yang menggabungkan ciri batik pesisir dan batik keraton/mataraman. Warisan ini masih dilestarikan oleh ibu-ibu perajin batik di Rembang hingga kini.

Untuk mengapresiasi hal ini, pada peringatan Hari Kartini 21 April 2018 lalu Batik Fractal bersama Bank Indonesia datang ke Museum Kartini di Rembang dan mengadakan pelatihan software jBatik. Pesertanya adalah perempuan-perempuan pewaris batik Kartini di Rembang dan Lasem. Pengetahuan sejarah yang cukup mumpuni dan dedikasi mereka untuk melestarikan tradisi patut diacungi jempol. Dalam waktu singkat, peserta telah bisa mengoperasikan laptop dan membuat motif baru melalui software jBatik. Motif ini kelak tak hanya diaplikasikan ke kain, tapi juga kerajinan tenun dan bordir. Senang sekali menyaksikan ibu-ibu perajin menemukan variasi produk dan keterampilan yang kelak akan digunakan dalam keseharian mereka.

Mereka mengaku, lewat Batik Kartini versi kontemporer buatan sendiri ini, mereka jadi lebih bangga terhadap warisan sejarah dan budaya mereka. Kami merasa bahwa perhatian Kartini pada isu pemberdayaan perempuan dan batik harus terus Batik Fractal lanjutan, lewat acara-acara semacam ini contohnya.

Share this articles :

Impact