Tiga tahun lalu, sebuah kolaborasi dimulai dengan tujuan sederhana yang diharapkan berdampak besar: memperkuat ekosistem batik tradisi Sukabumi-Cianjur melalui inovasi dan pendampingan. Kamis, 30 Juli 2026, kolaborasi yang diinisiasi oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bersama Batik Fractal ini memasuki babak baru. Kunjungan Direksi PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (PT SMI) ke Rumah Batik Fractal-SMI di Sukabumi menjadi penanda dimulainya rangkaian program pendampingan lanjutan. Program yang akan berjalan selama satu tahun ini bertajuk Penguatan Kapasitas Pembatik melalui Pelatihan Digital, Keuangan, dan Komersialisasi.
Hadir dalam kesempatan tersebut, yaitu Direktur Utama PT SMI Reynaldi Hermansjah, Kepala Divisi Sekretariat Perusahaan PT SMI Ramona Harimurti, Team Leader TJSL PT SMI Aldy Nugraha Sigit, beserta jajaran PT SMI. Kehadiran mereka disambut oleh jajaran direksi Batik Fractal: Nancy Margried, Yun Hariadi, dan Muhamad Lukman, bersama sepuluh UMKM batik terpilih yang akan mengikuti pelatihan tahap pertama tahun ini.
Pertemuan Perdana Direksi PT SMI dengan Peserta
Kegiatan diawali dengan kunjungan ke Galeri Batik Fractal-SMI, ruang yang menjadi etalase berbagai karya peserta hasil pendampingan selama tiga tahun terakhir. Galeri tersebut menjadi bukti bagaimana proses belajar, eksplorasi motif, dan pengembangan produk mampu menghasilkan karya-karya batik yang memiliki identitas kuat sekaligus memiliki potensi pasar.
Dalam sambutannya, Direktur Desain Batik Fractal, Muhamad Lukman, menyampaikan kebanggaannya pada sepuluh peserta terpilih. Ia menyampaikan bahwa perjalanan membangun ekosistem batik tidak berhenti pada pelatihan membatik semata. Yang lebih penting adalah membangun kemampuan para perajin agar mampu terus berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan akar budaya yang mereka miliki.
Acara kemudian dilanjutkan dengan perkenalan sepuluh UMKM yang telah melalui proses kurasi dari tiga puluh peserta. Masing-masing memperkenalkan usaha, latar belakang, serta harapan yang ingin dicapai melalui program pendampingan tahun ini. Selanjutnya, Direktur Batik Fractal, Nancy Margried, memaparkan perjalanan program selama tiga tahun terakhir sekaligus memperkenalkan arah baru pelatihan selanjutnya. Program ini dirancang sebagai pendampingan intensif selama dua belas bulan untuk memperkuat daya saing UMKM batik Sukabumi melalui perpaduan teknologi, penguatan bisnis, dan akses pasar. Untuk memperdalam pemahaman, Direktur Riset Batik Fractal Yun Hariadi juga memaparkan tentang latar belakang berdirinya Batik Fractal dan inisiasi seputar jBatik.
Menurut Nancy, tantangan UMKM batik saat ini tidak lagi hanya terletak pada kemampuan membuat kain batik. Para pelaku usaha juga perlu memiliki kemampuan mengelola bisnis, memahami kebutuhan pasar, memanfaatkan teknologi digital, hingga membangun kesiapan untuk mengakses pembiayaan formal. Pendampingan kemudian dilanjutkan dengan penguatan proses produksi, pengelolaan keuangan, administrasi usaha, strategi pemasaran, hingga dua siklus penjualan yang memungkinkan peserta menguji produknya langsung di pasar.
Program ini juga mengaktifkan Galeri Batik Sukabumi sebagai ruang edukasi, promosi, dan penjualan, sekaligus membuka peluang mengikuti berbagai pameran sehingga produk peserta dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Harapannya, para UMKM tidak hanya menghasilkan produk yang berkualitas, tetapi juga menjadi usaha yang mandiri, berkelanjutan, dan siap memperoleh akses pembiayaan.
Berpijak dari Harapan
Salah satu sesi yang paling menarik adalah ketika para peserta membagikan pengalaman mereka mengikuti pelatihan sebelumnya. Asep Hermawan dari UMKM Batik Sawargi, Cianjur, menceritakan perubahan besar yang ia rasakan setelah mengenal jBatik. Jika sebelumnya seluruh motif dibuat secara manual, kini proses desain dapat dilakukan secara digital sehingga lebih efisien dan membuka lebih banyak kemungkinan eksplorasi. Ia juga menyampaikan satu harapan agar pelatihan ke depan dapat didukung dengan penyediaan laptop bagi peserta. Selama ini, keterbatasan perangkat menjadi kendala bagi sebagian peserta untuk terus berlatih membuat motif di rumah setelah sesi pelatihan selesai.
Pengalaman serupa juga disampaikan oleh Ratna Aquariana dari UMKM Angglang Daun yang mengembangkan batik ecoprint. “Ecoprint adalah ilmu hati, bukan ilmu pasti,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya motif ecoprint dirancang langsung di atas kain sehingga hampir mustahil menghasilkan pola yang benar-benar sama pada produksi berikutnya. Dengan bantuan jBatik, rancangan motif kini dapat didokumentasikan secara digital sehingga karakter desain tetap dapat dipertahankan dan direproduksi pada proses produksi selanjutnya.
Setelah itu, direksi PT SMI juga berkesempatan menyaksikan demonstrasi penggunaan jBatik yang dibawakan oleh Mochamad Faisal dari UMKM Batik Kakak. Melalui demonstrasi tersebut diperlihatkan bagaimana teknologi digital dapat membantu proses eksplorasi motif tanpa menghilangkan nilai artistik maupun filosofi batik tradisi.
Selanjutnya, dalam sesi diskusi, Nancy Margried kembali menegaskan bahwa jBatik bukan sekadar aplikasi desain. Lebih dari itu, jBatik berfungsi sebagai media untuk merancang, menyimpan, dan mendokumentasikan motif batik sehingga menjadi bagian dari upaya pelestarian pengetahuan batik bagi generasi berikutnya.
Dalam sesi diskusi, Direktur Utama PT SMI, Reynaldi Hermansjah, menyampaikan apresiasinya setelah bertemu langsung dengan para pembatik. Ia mengaku senang melihat semangat para peserta yang terus berinovasi dan berharap PT SMI dapat terus mendukung perjalanan mereka untuk naik kelas. Reynaldi juga memberikan masukan agar para pembatik mulai mengkurasi kembali motif-motif batik klasik, khususnya motif khas Sukabumi dan Jawa Barat, sehingga kekayaan visual tersebut dapat diperkenalkan kembali kepada masyarakat luas.
Gagasan tersebut disambut baik oleh Batik Fractal dan direncanakan akan diwujudkan melalui penyelenggaraan pameran batik klasik sebagai bagian dari aktivasi Rumah Batik, sekaligus menjadi ruang edukasi mengenai kekayaan motif tradisional Sukabumi.
